Suweng

Hasta Indriyana
suaramerdeka.com

Perempuan itu tinggal di bukit ujung dusun. Di bukit itu tak ada rumah, kecuali gubuknya. Untuk mencapai ke sana, harus melewati petak-petak tegalan sejauh dua kali panjang lapangan sepak bola dari rumah terakhir pojok desa. Ia hidup sendirian. Kisah mengenai seorang anak yang dilahirkannya, selalu menyertai jika orang-orang membicarakannya. Anak itu, yang sekarang seusia SMP, gadis ayu berkulit kuning bermata jernih, diadopsi seorang warga yang kemudian diajaknya hidup di Jakarta. Continue reading “Suweng”

Bukan Kutukan Hujan

M Anshor Sja?roni
http://www.jurnalnasional.com/

Akila melongok langit, mendung tebal menggelantung di atas cakrawala seperti arak-arakan kelelawar memenuhi bentangan langit. Nampaknya malam bakal turun lebih cepat. Gelap memenuhi ruangan kamar Akila. Tidak lama lagi hujan bakal turun.

Akila melihat jam dinding kamar, lima belas menit lagi pukul lima. Akila sedang menunggu seseorang. Seorang lelaki yang bakal menikahinya. Sebentar lagi lelaki itu akan muncul di kelokan jalan raya, menuju rumah Akila. Lelaki itu berjanji bakal datang sore ini. Dia ingin mengenalkan diri pada ibu Akila sekaligus melamar Akila. Continue reading “Bukan Kutukan Hujan”

Verkooper Kompas

Rama Dira J.
http://www.jawapos.com/

Mulanya Nicholas de Travenier datang dari Nederland sebagai penembak artileri dalam pasukan perang. Keahliannya dalam melukis, membuatnya beralih pekerjaan menjadi seniman setelah Gubenur Jenderal yang terpesona pada goresan kuasnya dalam suatu kunjungan ke tangsi, meminta Nicholas dengan hormat untuk menjadi pelukis resmi VOC. Selanjutnya, Nicholas mendapatkan perlakukan istimewa dari sang Gubernur Jenderal yang memiliki kecintaan yang luar biasa pada seni lukis itu. Ia bahkan meminta Nicholas tinggal di Kastil Batavia, kompleks kediamannya, menempati salah satu kamar di lantai bawah. Continue reading “Verkooper Kompas”

Bahasa ยป