Seruling Sunyi

Matroni el-Moezany
http://www.lampungpost.com/

SEIRAMA dengan kuping yang mendengar suara dari balik layar kumputer, tiba-tiba tanpa di sengaja suara itu mematuk dan membawa Rizki menemui Tuhan-nya. Seluring yang membuat Rizki bertanya akan dirinya dan ruang yang tertutup retak tak bernama, mengapa bunyi seruling itu membuat jiwa ini memiliki ruang lain untuk selalu bertanya ketika seluring terdengar bersuara, sehingga malam itu tak ada kata-kata yang mampu mengubah jalannya suara seluring, selain diri yang selalu merindu. Karena kita terlalu sunyi untuk merasakan kata-kata. Maka bertanyalah selalu untuk merasakan adamu dalam ruang-ruang kehidupan. Continue reading “Seruling Sunyi”

Bluke Kecil

Budi Darma *
jawapos.com

ORANG tua Bluke Kecil tinggal di ruang bawah tanah sebuah gedung besar. Sewa ruang bawah tanah memang sangat murah, dan orang tua Bluke tidak mungkin tinggal di ruang lain yang lebih mahal. Tentu saja, ruang bawah tanah tidak sehat. Kalau musim panas sinar matahari jarang menjenguk ruang bawah tanah, dan kalau musim dingin, ruang bawah tanah bukan main dingin. Dan, barang siapa ting?gal di ruang bawah tanah pasti tidak mungkin menengok ke luar dengan bebas, sebab jendelanya sangat sempit, dan untuk menjenguk ke luar, mau tidak mau orang itu harus naik ke kursi atau meja. Detik demi detik, dengan sendirinya, ruang bawah tanah pasti mengundang berbagai macam penyakit. Continue reading “Bluke Kecil”

Pacar, Sore, dan Renyai

Yetti A.KA *
jawapos.com

Pacar

Dari pertama kali lelaki itu sudah katakan bahwa ia cuma menginginkan seorang pacar. Perempuan yang akan menemaninya jalan-jalan di sore Sabtu dan Minggu atau mendampinginya menghadiri acara kawinan teman kantor. Pacar yang tidak cerewet, tentu saja. Ia sangat bosan berurusan dengan perempuan banyak mau, seperti ibunya. Ah, betapa terganggu hatinya bila mengenang ayah tergopoh-gopoh memenuhi rengekan ibu yang minta dipijit atau dikerok atau dibelikan semangkuk bakso di pangkalan dekat rumah padahal saat itu seharusnya ayah istirahat sepulang kerja. Kini, ayah sudah meninggal. Begitu juga ibu. Continue reading “Pacar, Sore, dan Renyai”

Maling

Putu Wijaya*
http://www.jawapos.com/

Di jalanan yang sudah bertahun-ta?hun saya lalui, ada rumah orang ka?ya. Depan rumahnya ada sebatang pohon kelapa gading. Buahnya terus berlimpahan seperti mau tumpah. Kalau lewat di situ, saya selalu kagum. Tapi juga tak habis pikir. Mengapa kelapa itu tak pernah dijamah. Mungkin pemiliknya terlalu kaya sehingga sudah tidak doyan lagi minum air kelapa. Padahal kalau saya yang punya, tiap hari tidak akan pernah saya biarkan lewat tanpa rujak kelapa muda. Continue reading “Maling”

Bahasa ยป