Kembang Gula

Pranita Dewi

Beranda

SEMANIS-MANISNYA cerita, tidak semanis kembang gula. Rasanya begitu legit. Terasa dingin di bibir dan kemudian rasa itu menghilang ketika sampai di pangkal lidah. Manisnya memang sungguh berbeda, perpaduan antara manisnya madu dengan sari gula tebu. Seperti sarang laba-laba, jaringnya begitu halus, setipis awan. Hanya karena berwarna merah, aku menyebutnya gulali Jawa. Continue reading “Kembang Gula”

Sirkus Api Natasja Korolenko

Triyanto Triwikromo
http://www.jawapos.com/

AKU tak tahu mengapa Natasja Korolenko selalu menyebut rumah Virginia Grey di Jalan Denison, Bondi Junction, sebagai penjara para binatang. Setahuku tak ada satu hewan pun di dalam bangunan berarsitektur liar dalam balutan warna permen itu. Akan tetapi, sehabis berpesta Vodka semalaman denganku, perempuan Moskow yang senantiasa ingin dipanggil sebagai Pelagia Nilovna itu selalu mengigau dan bilang, setiap memasuki kamar-kamar atau toilet di rumah Virginia, kau akan mendengar harimau mengaum, ular mendesis, atau keributan seribu tikus hitam yang menjijikkan. Continue reading “Sirkus Api Natasja Korolenko”

Blues untuk Karna

Ganug Nugroho Adi *
oase.kompas.com

(1)
AKU tak juga mengerti ketika sore itu tiba-tiba saja ia menemuiku dan mengaku sebagai ibuku. O, perempuan dengan sepasang mata kelam, siapakah dirimu?

“Aku Kunti. Akulah perempuan yang melahirkanmu bertahun lalu. Bukan Rada ibumu. Ia hanya seorang istri kusir kereta yang menemukanmu dari sungai itu.” Continue reading “Blues untuk Karna”

Caleg Pilihan

Imam Nawawi Mar’ah
http://www.suarakarya-online.com/

Aku menyesal menghabiskan sisa umur di bangku kuliah sampai pendidikan S3. Sudah yang ke tujuh kalinya mayat di temukan dengan kepala terpenggal di aliran arus sugai. Namun tetap saja tidak bisa bantu menghentikan peristiwa kematian beruntun itu dengan bekal pengetahuan yang aku miliki. Mungkin sebagai adat istiadat, aku maklumi saja jika para lelaki di tempatku beradu kekuatan dan kejantanan lantaran istri mereka selingkuh dengan orang lain. Continue reading “Caleg Pilihan”

Puber Kedua

Riz Koto
http://www.suarakarya-online.com/

“Permisi, Om…” Kalimat itu menjadi pemukul puncak deguban jantungku yang sejak tadi, sejak dia kulihat di ujung jalan, berjalan menuju rumah orangtuanya persis di depan rumahku.
“Yaaa…,” jawabku pelan dan lembut sambil memandangi senyum dan sikapnya yang sopan, hormat, dan tampak kikuk. Continue reading “Puber Kedua”

Bahasa ยป