Bayang Malaikat

Dianing Widya Yudhistira
http://www.suarakarya-online.com/

AKU terjaga oleh dering pendek ponselku. Segera aku raih ponsel yang selalu aku taruh di meja tulis yang ada tepat di samping kanan tempat tidur. Saat membuka sms yang masuk, aku terhenyak.
“Bila kumati, aku ingin menghantuimu.” Buru-buru aku tekan delete. Ponselku kembali berdering pendek.
“Semestinya kau ikut mati terpanggang dalam ledakan itu.” Aku kian terhenyak. Detak nadiku entah berdenyut entah tidak. Continue reading “Bayang Malaikat”

Anak Wali Kota

Yonathan Rahardjo
suarakarya-online.com

Ketika malam turun, mentari lari dari wajah belahan bumi. Udara mencekam dalam dingin, sapuan angin mengusir debu jalanan. Bahkan bis kota pun ketakutan, mereka masuk gubuk reyot, ada yang masuk kelambu merah. Bajai terseok-seok menyuruk kali, becak terbang ke bui. Tentu saja asap knalpot terbirit-birit dihembus udara lancang.
“Tidurlah malam hari, dengan jendela terbuka, agar angin malam membisikkan kenangan indah bagimu,” katanya. Continue reading “Anak Wali Kota”

Boundary

Ida Ahdiah
http://www.suarakarya-online.com/

Perempuan itu tiba sebelum boundary buka. Di muka pintu penyewaan mesin cuci itu, ia mengibas-ibaskan telapak tangannya. Lalu meniup-niupnya. Ia mencoba menghangatkan tangannya yang beku.. Diambilnya secarik kertas dari tas yang disandangnya di bahu. Matanya mencocokan nomor di atas pintu dengan nomor di kertas. Continue reading “Boundary”

C A L E G

Gita Nuari
http://www.suarakarya-online.com/

Orang pertama yang mendukung Parjo jadi caleg adalah bapaknya sendiri.
“Kamu serius, Jo?” tanya sang bapak. “Saya serius, Pak!” sahutnya spontan.
“Bagus, bagus. Bapak mendukung. Dua ekor sapi milik Bapak, boleh kamu jual untuk memuluskan cita-citamu itu. Pokoknya, Bapak ada dibelakangmu!”
“Terima kasih, Pak. Terima kasih,..”kata Parjo sambil mencium tangan bapaknya tertubi-tubi. Continue reading “C A L E G”

Batas

Andika Destika Khagen
http://www.lampungpost.com/

TELAH lama kutunggu Hasim di ruang tamu. Ia akan datang hari ini. Mungkin sebuah pertemuan yang tak terkendali. Aku menunggunya tak ramah, juga tak akan tersenyum. “Percayalah. Aku mesti tegas.” Pintu pagar sengaja tak dikunci dan dibiarkan terbuka lebar. Aku ingin ia melihatku gelisah sebelum duduk di sampingku. Atau ciut sebelum nalarnya jalan dan amarahnya meletup. Aku harus benar-benar siap. Continue reading “Batas”

Bahasa ยป