Kanal

Ratna Indraswari Ibrahim
http://www.jawapos.com/

Menelusuri jalan-jalan di Universitas Amsterdam, Nunung merasa sangat tidak nyaman (dia baru tiga bulan di sini untuk mengambil S2 atas biaya dari negeri ini).

Nunung sibuk menutupi rambutnya dengan penutup kepala jaketnya, agar bisa mengurangi hawa dingin. Tiba-tiba Bryan berkata, ”Rambut orang Asia itu bagus ya.”

Nunung menatap wajah Bryan. Negeri ini mungkin penuh basa-basi. Dia tak mau jauh berpikir. Melihat ke arah lain, beberapa mahasiswa berseliweran dengan tas ransel di pundak. Bryan mengulangi ucapannya, ”Rambut orang Asia memang bagus. Aku kepingin melukis rambutmu, Nyonya.” Continue reading “Kanal”

Dendangan di Bawah Bambu yang Rindang

Uswatun Hasanah*
http://www.lampungpost.com/

KULUAPKAN segalanya di tempat ini. Sebuah tempat yang pernah menjadi saksi perilaku kejamku. Aroma tanah yang bersemilir, rumpun bambu yang rindang, daun, dan batang bambu yang bergemerisik ngilu. Gemerisik air sungai penambah haru, desau angin yang menerbangkan aku ke masa lalu.

Bagaimana kurasa semua itu terngiang kembali, permohonan Erika yang tak kukabulkan itu.

“Kumohon, John. Jangan lakukan ini, jangan bunuh aku. Aku masih ingin hidup.” Continue reading “Dendangan di Bawah Bambu yang Rindang”

Kepala

Damiri Mahmud
lampungpost.com

SANG Empu dikelilingi beberapa muridnya. Langit sedikit gelap. Tak ada angin. Burung-burung masih hinggap di pepohonan, bersahut-sahutan, mungkin memberitakan ziarahnya hari itu dan perolehan rezeki dari padang ke padang.

“Maukah kamu mendengarkan sebuah kisah, Muridku?”

“Tentu Guru,” murid menjawab takzim. “Kami akan menelaahnya baik-baik.” Continue reading “Kepala”

Pulau Asap

Jefri al Malay
http://www.riaupos.com/

Setelah merasa tidak memiliki apa-apa selain kata-kata, akhirnya kuputuskan saja menulis surat ini padamu, Alifya. Hanya ini yang kubisa. Sedikit banyak, ianya mampu mengobati kerinduan yang tertancap di hati. Serupa pancang yang terpacak menjulang bertahun-tahun di tepian jambat, hanya berteman gelombang pasang surut, arus, terpaan angin, juga kebat tali sampan atau pompong yang melingkarinya. Sesekali singgah juga burung raja udang sekedar menjengah mangsanya kemudian terbang lagi, senyap lagi. Aku risau Alifya, takut kalau-kalau kerinduan itu menjadi usang, lapuk dan rapuh disebabkan terlalu lama meniti waktu yang tak pasti. Continue reading “Pulau Asap”

SERENADA SEBUAH PERPISAHAN

Dodiek Adyttya Dwiwanto
http://oase.kompas.com/

Hei, mau dibawa ke mana aku? Halo, semuanya! Aku mau dibawa ke mana? Hei, semuanya!

Kok, tidak ada yang mendengar ya? Apa suaraku kurang keras? Padahal biasanya teriakanku cukup lantang. Puluhan tahun yang lalu, saat masih gadis, aku pernah ikut jadi Pasukan Pengibar Bendera. Jadinya yang namanya teriak, sudah sering aku lakukan. Apalagi kemudian saat menikah, aku memiliki empat anak, dua di antaranya lelaki yang nakalnya minta ampun. Kalau aku tidak berteriak-teriak, mereka tidak akan berhenti bermain. Tidak akan mau pulang ke rumah, meski hari telah magrib. Continue reading “SERENADA SEBUAH PERPISAHAN”

Bahasa ยป