M A R I N A

Iman Suwongso
http://oase.kompas.com/

Marina, aku mencarimu di ujung jalan, tempat biasanya kamu berdiri di bawah pohon randu, berpayung warna-warni. Sudah kuhabiskan waktu setengah hari aku disitu, namun bibirmu yang bergincu tebal itu seperti lenyap ditelan debu yang mengepul oleh roda truk. Aku menunggumu bersama burung prenjak, yang menahan kicaunya karena dia takut kehilangan kemerduannya saat kamu melenggang dari tikungan jalan. Sudah aku tanyakan kepada tetangga terdekat di ujung jalan ini, juga kepada kapuk-kapuk yang berterbangan, seperti salju hinggap di rambutmu yang legam. Mereka diam. Lebih bisu dari patung kuda di perempatan jalan itu. Continue reading “M A R I N A”

Tetanggaku Cina

Weni Suryandari
http://oase.kompas.com/

?Ma……..Mama, Bu Mita udah pulang!? celoteh yang biasa kudengar setiap kali aku baru pulang mengajar dan baru mau membuka pintu pagar. Rumah yang terletak di hadapan rumahku itu selalu ramai dengan celoteh anak-anak kecil, si kembar dan si bungsu. Ketiganya laki-laki semua.

Aku menengok dan tertawa melihat celoteh mulut-mulut kecil itu. Mereka berebutan naik ayunan bahkan celah-celah pagar untuk bisa mengintipku dari balik pagar yang ditutupi fiberglass
?Iya, kenapa sayang? Ibu masuk dulu, ya?? Aku menyahut sambil membuka pagar. Continue reading “Tetanggaku Cina”

Gerimis Senja di Jendela

Abdullah Khusairi
http://www.jawapos.com/

Kau tandai malam itu di dadaku. Hingga membekas dan terasa sampai kini. Maka rindu ini kian rindang saja. Rindang tak berbuah. Pun seorang, tak ada yang tahu tentang itu selain aku. Dan malam-malam aku mengisahkan sendiri bagaimana getar-getar jiwa menyatu malam itu.

Aku menulis sisa-sisa dari hidup yang pernah terbingkai bersamamu. Bingkai yang kecil. Kecil sekali. Tak patut disebut sejarah bagi siapa saja, apalagi bagi negeri ini. Continue reading “Gerimis Senja di Jendela”

Kepekatan Malam Tak Berujung

Kavellania Nona Pamela

Salah satu coffe shop di bilangan Kemang begitu ramai. Maklum saja ini malam Minggu sehingga lumayan banyak pengunjung yang datang. Pada salah satu sudut ruangan Amara hanya duduk sendirian, sibuk berinternet dengan laptop. Biasanya jika malam Minggu seperti ini Reihan selalu datang dari Purwekerto ke Jakarta untuk menemaninya menghabiskan malam minggu. Tiga bulan yang lalu Reihan disuruh memegang bisnis keluarganya, maka dari itu Reihan yang tadinya tinggal di Jakarta dan satu kantor dengan Amara, pindah ke Purwekerto. Continue reading “Kepekatan Malam Tak Berujung”

Limin Jadi Dukun

Esha Tegar Putra
http://www.riaupos.com/

Tiba-tiba tubuh Limin terlentang, rubuh ke tanah, ia terkulai lemas tidak berdaya. Segelas kopi yang baru saja ingin diseruputnya tertuang membasahi pakaian lelaki paruh baya itu. Di genggaman tangan kirinya kulihat batu, pipih seukuran telur ayam kampung, berwarna hitam dan kesat. Batu itu erat digenggamnya.

Orang-orang di lepau tersentak melihat kejadian yang menyiratkan keanehan tersebut. Sesekali tubuh Limin menggelepar seperti ayam yang baru saja disembelih. Dari mulutnya air liur membusa, matanya membelalak. Continue reading “Limin Jadi Dukun”

Bahasa ยป