Monolog Hutan Pinus

Wawan Setiawan
http://www.jawapos.com/

Desau angin hutan pinus menghibur hatiku yang ragu karena terbukanya aib demi aib dalam tubuhku. Aib-aib itu begitu banyak, seluruh organnya mulai jari kaki sampai ubun-ubun mengalaminya. Untunglah ada angin sejuk hutan pinus yang melonggarkan. Angin hutan pinus juga telah memberiku oksigen yang sekarang sudah semakin mahal. ”Dunia enggan disapa,” kata penyair idolaku di suatu tengah malam, menjelang akhir hidupnya. Continue reading “Monolog Hutan Pinus”

Di Penghujung Ufuk

Rengget Dyaloka
http://renggetdyaloka.com/

Belukar menguning, Jati meranggas. Kemarau. Aku masih berjalan mengiring kali kecil penghubung Desa Rengkok dengan Desa Balonggereng, menapaki jalan bebatuan yang berserak, sesekali melintasi petak-petak sawah yang ditinggal pemiliknya. Aku membawa sekeranjang besar mangga untuk ibu. Semoga ia mengampuniku. Continue reading “Di Penghujung Ufuk”

Membakar Api

Eka Kurniawan
cetak.kompas.com

Setelah yakin istrinya menghilang dari rumah sakit, tentu bersama bayi mereka yang baru lahir, Mirdad segera menelepon sang istri. ”Artika, di mana kamu? Bagaimana dengan bayi kita?” Suaranya lebih ditujukan untuk kotak suara, yang diawali pesan pendek Artika, ”Suamiku, jika kamu mau melihat anak kita, kembalikan dulu ayahku ke rumah.” Continue reading “Membakar Api”

Lelaki Terpuji Itu

Nelson Alwi
http://jurnalnasional.com/

DIA bukan modin. Tapi sepengetahuan orang-orang, kepeduliannya pada musala di kompleks perumahan di mana kami bermukim, melebihi loyalitas seorang modin atau penjaga rumah ibadah mana pun.

Biasanya, antara pukul sembilan dan sepuluh pagi, dengan handuk kecil tersampir di pundak, dia sampai di musala. Tenang-tenang dia singkapkan pintu dan jendela rumah ibadah itu. Tenang-tenang pula dia buka gudang perkakas. Kemudian, ada-ada saja yang dia kerjakan?tergantung cuaca dan, mungkin juga, merupakan kebijakan atau kemauannya belaka. Continue reading “Lelaki Terpuji Itu”

Bahasa »