Ilusi

Kavellania Nona Pamela

“Kenapa belum tidur?” Tanya Kudo pada jendela chatting di YM.

Vella melirik jam pada dinding berwarna biru. Pukul setengah dua belas malam. Ia mendesah pelan, menahan semua rasa sakitnya. Ia tahu persis alasan mengapa belum juga pergi ke alam mimpi. Kali ini ia merasa hatinya seperti sedang disayat-sayat, degub jantungnya tak stabil menahan perihnya sayatan itu. Tapi tetap saja air matanya enggan untuk keluar padahal ia tidak sedang menahan tangis. Mungkin kemarau telah datang pada matanya atas kejadian ini. Continue reading “Ilusi”

Negeri Para Pemburu

Teguh Winarsho AS
kr.co.id

“AKU TAKUT melihat perang, darah dan kematian,” katanya pada suatu hari saat jalan raya menjelma hujan batu dan kobaran api. Langit menjadi lebih merah. Udara pengap meruap anyir darah. Ia lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Mencari tempat untuk bersembunyi. Tapi para serdadu itu terus memburu sembari menggenggam senapan dan pentungan kayu. Melempar gas air mata dan juga batu. Mata mereka nyalang, berkilat, seperti menyimpan belati. Membuat ia ketakutan setengah mati seperti dikejar-kejar sekelompok mummi. Continue reading “Negeri Para Pemburu”

Kartu Pos dari Surga

Agus Noor
cetak.kompas.com

Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hati-hati!” teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. Continue reading “Kartu Pos dari Surga”

Saputangan Buat Bapak

Weni Suryandari
http://kompas.co.id/

?Bu..untuk apa Ibu menyulam saputangan itu? Sudah malam, Bu!? aku mengingatkan Ibu sambil menutup novel yang kubaca ini sebentar.

Ibu tak menyahut. Tangannya khusyuk meneruskan sulaman berinisial nama Bapak pada sebuah saputangan warna biru. Itu adalah saputangan baru. Semua saputangan Bapak ada 7 lembar. Ternyata ada satu yang hilang entah dimana. Tak kutemukan. Mungkin tertiup angin saat baru kering di tali jemuran belakang sana. Aku ingat, beberapa hari yang lalu memang angin bertiup sangat kencang. Beberapa celana dalam sempat berjatuhan ke tanah. Continue reading “Saputangan Buat Bapak”

Mawar di Tiang Gantungan

Agus Noor
cetak.kompas.com

Kuceritakan apa yang kulihat. Tapi kalian mengatakan aku dusta, karena aku buta. Aku memang tak punya mata. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian, betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu, daun-daunnya yang kemerahan, butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru, gugusan awan merah muda, bayang-bayang yang putih dan memanjang, juga angin yang pucat kelabu. Continue reading “Mawar di Tiang Gantungan”

Bahasa »