Untuk Emakku

Weni Suryandari
http://www.kompas.com/

Surti menatap nanar setiap kendaraan yang lewat. Sesekali ia melambaikan tangannya pada setiap sopir, namun malam itu tak satupun sopir kendaraan berhenti. Ia sudah lelah dan mengantuk. Uang di sakunya hanya tinggal beberapa puluh ribu lagi, berarti ia harus mencari uang lagi untuk melunasi hutang biaya rumah sakit perawatan emaknya yang meninggal 1 bulan yang lalu dan harus ia tanggung sendirian sebagai anak satu-satunya yang tersisa dari dua bersaudara. Continue reading “Untuk Emakku”

Negeri Batu

Indrian Koto
jawapos.com

Melewati tempat ini, aku kembali dibangkitkan pada ingatan ganjil tentangmu. Aku merasa, nyaris seluruh peristiwa kita tertinggal di selingkaran candi-candi hitam nan sunyi. Barangkali, kerinduan memang memberikan tempat terbanyak untuk peristiwa dan kenangan. Seperti aku kini merasakan semuanya serupa batu hitam yang terukir di antara candi-candi retak. Continue reading “Negeri Batu”

Cinta yang Dibungkus Kafan

Ahmad Syam
http://www.lampungpost.com/

Rosdiah memang pantas membuat setiap lelaki Desa Sattu tergila-gila. Rosdiah, tidak sebagaimana pada umumnya gadis-gadis lain di desa tersebut, kulitnya putih bersih. Wajahnya bundar persis bulan purnama yang sempurna. Jika sedang malu, terlihat tanda kemerah-merahan di pipinya.

Matanya akan berbinar-binar seperti bintang-gemintang bila diajak bicara. Itu menciptakan kesan bahwa di dasar matanya tersebut terdapat telaga keriangan. Continue reading “Cinta yang Dibungkus Kafan”

Kemudian Saat Kau Katakan

Sutan Iwan Soekri Munaf
sinarharapan.co.id

Kemudian saat kau katakan cinta, aku percaya saja. Malam itu terasa berbunga-bunga, yang aromanya menyebar ke setiap sudut di kafe Dago Pakar. Bahkan aroma rumput yang membasahi hujan sore itu, sama sekali tak terasa. Apalagi cahaya bulan hampir penuh purnama semakin menambah denyar darah dalam nadiku berdenyut kencang. Dan remasan jemarimu pada jemariku terasa hangat. Continue reading “Kemudian Saat Kau Katakan”

Bahasa ยป