Malam Menggelepar di Tanjungkarang

Alex R. Nainggolan
http://www.suarakarya-online.com/

Udara dingin malam jatuh semaput merajut tubuh Pedro. Ia merasa nyerinya menusuk sampai ke tulang, barangkali kemarau telah sampai di akhir Juni ini. Tapi ia tetap saja berjalan, menelusuri jalan Tanjungkarang yang sebenarnya sudah akrab baginya. Ia ingin menuntaskan sesuatu, di kepalanya telah lama bertungkai pelbagai rencana: mungkin ke tempat hiburan malam, menenggak bergelas-gelas bir, mencari perempuan yang bisa menemaninya sebentar, atau bila segalanya tak satu pun yang terpenuhi, ia akan melamun sendiri, berdiam di dalam sunyi, menyimak kota Tanjungkarang yang dibalut warna-warni cahaya lampuan. Continue reading “Malam Menggelepar di Tanjungkarang”

Hantu, Perempuan Sundal, dan Kebohongan Bramanto

Fakhrunnas MA Jabbar *
lampungpost.com

Akulah hantu itu. Tertiup angin aku datang ke pulau yang mulai gemerlapan ini. Tersebab lupa, aku tak tahu darimana aku tiba. Aku bisa berumah di awang-awang atau berhimpun dalam gemuruh hujan dan petir. Tak usahlah aku berterus-terang ihwal asalku. Orang-orang Melayu kebanyakan agak berpantang membincangkan soal itu. Kecuali, para batin dan bomoh yang sewaktu-waktu bisa saja memanggilku tanpa surat perintah sekali pun. Aku hanya takluk pada mantera dan bacaan gaib serta bau-bauan kemenyan atau ramuan kembang para batin atau bomoh tadi. Continue reading “Hantu, Perempuan Sundal, dan Kebohongan Bramanto”

MEREKA TIDAK HARUS MATI

Haris del Hakim
http://sastragerilyawan.blogspot.com/

Kastumiun menambatkan perahu di batang trembesi sebesar lengan, menjejakkan kaki di bibir perahu, melompat ke atas pematang tambak, melihat tambak yang berair keruh dan ikan-ikan bandeng timbul tenggelam; sesekali bagian perut ke atas, berusaha menyelam lagi, timbul lagi. Ikan-ikan dalam keadaan seperti itu memenuhi separuh permukaan tambak. Continue reading “MEREKA TIDAK HARUS MATI”

IBU MENINGGAL DI TANAH SUCI

Humam S Chudori
http://www.republika.co.id/

Antara percaya dan tidak saya membaca suratkabar yang memuat nama-nama calon jamaah haji yang wafat di tanah suci. Bukan lantaran nama ibu saya ada di sana. Melainkan karena berita itu menyebutkan ibu meninggal akibat sakit parut-paru. Sebagai salah seorang anaknya, saya tahu persis ibu tidak pernah mengidap penyakit paru-paru.

Namun, setelah Mardiana — adik saya yang tinggal di Pemalang — mengatakan hal yang sama, saya baru percaya. Continue reading “IBU MENINGGAL DI TANAH SUCI”

Sebuah Makam Untukku

Rakhmat Giryadi

Ketika menjejakkan kaki di jalan beraspal ini, aku membayangkan ibu yang wajahnya mulai dirambati garis-garis ketuaan yang tegas. Seorang ibu yang barangkali hanya duduk termenung sambil menunggu waktu pagi berubah malam. Seorang ibu yang kesepian. Seorang ibu yang tidak tahu dimana alamat anaknya yang puluhan tahun lalu pergi kemudian tak segera kembali. Continue reading “Sebuah Makam Untukku”

Bahasa ยป