Kejahatan Dulrokim

Mashuri

Aku memang mengenal sosok yang kau tanyakan. Aku biasa memanggilnya Dulrokim, seperti halnya warga lain memanggilnya. Jika kau bertanya, seberapa jauh kenalku dengan lelaki itu, aku tak bisa menjawab dengan pasti, karena nama panjangnya saja aku tak tahu. Aku hanya tahu nama panggilannya. Tetapi aku akan berkisah kepadamu sejauh kedekatanku dengannya selama ini, agar kau tahu gambaran Dulrokim dari sisi yang lain. Apalagi aku termasuk orang yang tak setuju dan sangat menentang tindakan orang-orang yang menghabisi nyawanya, lalu membakar jasadnya sampai menjadi arang. Continue reading “Kejahatan Dulrokim”

Minok

balipost.co.id

Raudal Tanjung Banua

Minok tertegak menahan isak. Ujung kaitan melayah di lantai, belum sempat ia singsingkan, ketika Agus — putra kecil semata wayangnya — kembali mengucapkan kata itu, ”Bu, besok Agus ikut menyeberang, mencari ayah…” Continue reading “Minok”

Pegawai Negeri

Teguh Winarsho AS
suarakarya-online.com

AKU dan Annisa memutuskan menikah di usia muda. Aku, duapuluh tahun; sedang Annisa, sembilanbelas tahun. Awalnya keputusan ini ditentang ayah. Ayah menghendaki agar kami selesai kuliah, baru menikah. Tapi setelah mendengar penjelasanku, akhirnya ayah maklum dan mau menerima. Begitulah, aku dan Annisa sudah saling menyinta. Kami tak ingin terjebak pada perbuatan yang dilarang agama. Dan, menikah adalah jalan keluar yang terbaik. Continue reading “Pegawai Negeri”

Rumah yang Hilang

Ida Ahdiah
http://www.jawapos.com/

Rumah itu kecil dua lantai, dan jauh dari keramaian. Lantai pertama terdiri dari ruang tamu, dapur, dan ruang makan. Dua kamar tidur dan kamar mandi di lantai atas. Di kanan, kiri, depan, dan belakang masih ada tanah kosong. Supermarket agak jauh. Begitu juga klinik.

Dua blok dari rumah ada taman besar, menjorok ke sungai, yang membelah pulau. Piere yang lahir di sebuah kota kecil, di tepi sungai, dengan dermaga kayu tempat menambatkan perahu, menyukai kedekatan rumah itu dengan sungai. Continue reading “Rumah yang Hilang”

Belajar Bercinta dengan Laut

Marhalim Zaini
Koran Tempo, 19 Juni 2005

Segala yang datang dari laut, cintailah.
Tentang perjalanan. Tentang hidup yang tak terukur. Dan sesuatu yang tiba-tiba membuat kita merasa tidak lengkap. Di mana ia? Seorang saja yang hilang, pasti hati kita lengang. Kehilangan itu kian akrab. Seakrab kematian. Dan laut, selalu menyimpan ketakterdugaan. Ia, lelaki yang pergi bersama subuh. Aku, perempuan yang menanti seperti luluh. Kami, sepasang kekasih, yang disebabkan laut, maka harus melepas pagut. Continue reading “Belajar Bercinta dengan Laut”

Bahasa ยป