Bumi Asih

A. Rodhi Murtadho *

Bumi dan Asih terus berkasih. Di tengah jelaga malam maupun di terik siang. Jiwa beraga petang di selimut kerinduan. hayal menggelepar di senyum kecut dahaga hening. Bumi merana dalam sendiri. Terinjak-injak sepi dalam kekalutan. Apa mau dirasa hanya berpulang gelisah.

Wajah bumi melas mengeras. Batas sudah lepas. Kewajaran dari tipu daya. Kering kerontang merana. Segala isi dikeluarkan. Semburat tanpa pesan. Hanya meninggalkan sampah. Restu berpulang ketika petang. Dengan halang, terus saja menyediakan. Bumi merasa kosong. Melayang tak karuan. Rotasi dan revolusi sudah tak pada lintasan. Sering kandas dan melenceng. Kekuatan telah hilang. Continue reading “Bumi Asih”

Malam Seribu Bulan

Teguh Winarsho AS
Suara Karya, 25 Nov 2006

Sungguh saya menyesal tidak memberi uang recehan pada laki-laki tua yang menengadahkan tangannya sembari menatap saya dengan sorot mata iba ketika mobil yang dikendarai istri saya berhenti di traffic light, sepulang kami dari mengambil uang di Bank. Padahal di dalam mobil ada banyak uang recehan yang memang khusus disediakan istri saya untuk dibagi-bagi pada para pengemis di perempatan jalan. Rasa sesal itu terus menghantui selama perjalanan sampai saya tiba di rumah. Continue reading “Malam Seribu Bulan”

Bayi Karet

A. Rodhi Murtadho *

Bayi karet telah lahir. Mengguncang seluruh percakapan di warung-warung. Memanaskan perdebatan di forum-forum diskusi pinggir jalan. Bahkan para anggota dewan melakukan rapat pleno untuk membahas isu meresahkan ini. Bayi karet. Mewaspadai ancaman politik. Meski juntrung kebenarannnya masih dipertanyakan.

Omongan merata terdengar di setiap telinga. Namun, mata belum menyaksikan. Wartawan-wartawan dengan sekuat tenaga dan secepat kemampuan menelusuri sumber isu. Tentu akan membawa para wartawan kepada bayi karet, pikir mereka. Berita heboh akan didapat. Bonus tinggi yang dijanjikan si bos bisa berada di tangan. Continue reading “Bayi Karet”

Permintaan Terakhir

Liza Wahyuninto

“Aku masih seperti yang dulu Nin! Masih senang mendengar adzan untuk kemudian aku mendoakan keberhasilanku di esok hari. Aku memang belum merasakan doa itu mempengaruhi pekerjaanku, tapi aku yakin doa setelah adzan itu memang terkabul. Mungkin saja Tuhan belum mendengar doaku, mungkin pula Malaikat rahmat salah alamat dalam mengirimkan rizki, atau aku yang berdoa tidak terlalu khusyu’. Continue reading “Permintaan Terakhir”

Bahasa »