Pejuang

Maria Magdalena Bhoernomo
Seputar Indonesia, 19 Agu 2007

Lelaki tua itu selalu suka mengenakan lencana merah putih yang disematkan di bajunya. Di mana saja berada, lencana merah putih selalu menghiasi penampilannya.

Ia memang seorang pejuang yang pernah berperang bersama para pahlawan di masa penjajahan sebelum bangsa dan negara ini merdeka. Kini semua teman seperjuangannya telah tiada. Sering ia bersyukur karena mendapat karunia umur panjang. Ia bisa menyaksikan rakyat hidup dalam kedamaian. Continue reading “Pejuang”

Rumah Warisan

Yonathan Rahardjo *
Republika, 13 Jan 2008

Kematian perempuan tua itu membangunkan duka. Terik matahari, yang membuat penduduk malas keluar rumah, tak sanggup menahan hati menuju gelap, ditutupi mendung kesedihan. Menantu perempuan tua itu, yang pertama kali menjumpai kematian sang perempuan tua, menjerit pilu. Continue reading “Rumah Warisan”

Menikuskan Tikus

F. Rahardi *

Jikalau tikus-tikus sudah menjadi tidak seperti tikus lagi lantaran tak mau maling dan jinaknya bukan main hingga dia mau saja kita elus-elus lalu ketika kita masukkan ke saku celana dia diam saja, apa jadinya dengan manusia. Mereka pasti sudah menjadi tidak seperti manusia lagi hingga gemar sekali di tempat gelap untuk berbuat seperti tikus dan kadangkala menyuruk-nyurukkan moncongnya yang juga berkumis apabila kedapatan olehnya apa saja yang patut untuk disuruki moncong. Continue reading “Menikuskan Tikus”

Tuhan Mengutus Tikus, Manusia Menjadi Tikus

Muhammad Yasir

Seorang hakim telah mengetuk palu tiga kali di ruang pengadilan yang lembab. Seorang lelaki berkulit hitam-legam menatap pijar wajah hakim yang tidak menerima pembelaannya. Kemudian dia bangkit dan mengatakan kepada hakim untuk kembali mempertimbangkan. Apa peduli hakim kepada seorang petani seperti dirinya, hakim itu keluar dengan pengawalan ketat aparatur pengadilan. Jadilah, petani itu diseret seperti seekor bangkai anjing liar yang perutnya mulai menggelembung seakan segera pecah. Continue reading “Tuhan Mengutus Tikus, Manusia Menjadi Tikus”

Telor Ceplok

Eko Darmoko
Harian Bhirawa, 12 Juni 2020

Dahi legam itu matang digoreng matahari. Pasir emas Sanur mengasinkan dahi legamnya serupa telor ceplok. Sedangkan asam membuncah dari bulir keringatnya.

“Bapak pasti pulang, Nak! Temani ibumu yang sedang merakit harapan di rumah,” katanya sambil menyeka dahi legamnya menggunakan punggung tangan. Continue reading “Telor Ceplok”

Bahasa »