Sitok Srengenge: Puisi sebagai Pertaruhan Berbahasa

Asarpin

Dia menulis dengan bahasa yang sangat puitis. Barangkali inilah modal utamanya sebagai penyair—belakangan juga mencatatkan diri sebagai penulis prosa yang liris dan puitis, yang hanya bisa ditandingi oleh kejernihan bahasa prosa Nukila Amal. Terus terang, saya iri dengan kemampuan bahasa Indonesia yang dimilikinya. Bahkan, saya tak bisa menyembunyikan keterpesonaan setiap kali memukan sajak-sajaknya. Selalu ada semacam godaan untuk mengikutinya, jadi epigonnya, atau mengambilalih, atau memiuhnya. Mungkin benar kata sebagian orang: tulisan yang bagus akan selalu menggoda orang untuk jadi pencuri. Continue reading “Sitok Srengenge: Puisi sebagai Pertaruhan Berbahasa”

Goenawan Mohamad: Tentang Puisi dan Pemikiran

Asarpin *

Dua hal akan dengan gampang dikorbankan dalam krisis ekonomi yang seberat ini, di samping tenaga buruh, itu adalah seni dan pemikiran. Keduanya sudah pasti bukan termasuk bahan pokok. Keduanya juga lebih sering memakan beaya ketimbang menjadi sumber dana. Keduanya tak jarang merisaukan.

–GOENAWAN MOHAMAD, “Menangkis Negara, Menangkal Pasar”, dalam Utan Kayu Tafsir Dalam Permainan, Kalam, Jakarta : Agustus 1998, h. ix Continue reading “Goenawan Mohamad: Tentang Puisi dan Pemikiran”

Afrizal Malna: Puisi dan Geometri Ruang Imajiner

Asarpin *

Setiap yang saya lakukan harus ada rasionalisasinya… Sebab saya tak mau terombang-ambing dalam wilayah yang cenderung tak bertuan.
–AFRIZAL MALNA, dalam esai ”Proses Kreatif”, dimuat dalam bagian akhir buku himpunan puisi Kalung dari Teman.

Dan waktu adalah air
–AFRIZAL MALNA, fragmen puisi ”Fanta Merah untuk Dewa-dewa” Continue reading “Afrizal Malna: Puisi dan Geometri Ruang Imajiner”

Bahasa »