KEBANGKITAN SASTRA (DI) LAMPUNG

Asarpin *

Pemantik

Lampung mendapat sorotan para pemerhati sastra karena negeri ini banyak sekali melahirkan penyair. Hampir setiap minggu kita temukan puisi yang ditulis penyair Lampung di koran nasional maupun lokal. Bahkan di TIM pernah diadakan diskusi khusus membicarakan fenomena kepenyairan di Lampung. Salah satu pembicaranya adalah Nirwan Dewanto—kritikus yang dianggap paling berwibawa dalam dua dekade terakhir. Continue reading “KEBANGKITAN SASTRA (DI) LAMPUNG”

Penyair-Penyair Lampung

Asarpin

Prolog: Negeri Penyair

Lampung sudah cukup lama dikenal memiliki lumbung sastra. Mungkin karena Lampung punya aksara sendiri, yaitu aksara Kaganga. Betapa banyak bentuk sastra yang tersebar dalam kelisanan masyarakat Lampung, baik di selatan, timur, barat, maupun di tengah. Lampung memiliki kekayaan subkultur yang beragam dan dianggap bisa menjawab berbagai tantangan zaman. Continue reading “Penyair-Penyair Lampung”

SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI DAN KRITIK SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana *

Teori sastra (literary theory)[1] di Indonesia secara praksis sering kali dipahami juga sebagai kritik sastra (criticism).[2] Sementara kritik sastra tidak jarang diperlakukan sebagai pendekatan (approaches to literature).[3] Dalam hal ini, kritik sastra dianggap merupakan pendekatan yang dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk berbagai kepentingan penelitian terhadap karya sastra konkret. Demikianlah, dalam banyak perbincangan, baik teori sastra maupun pendekatan atau penelitian sastra, hampir selalu ditempatkan dalam pengertian sebagai kritik sastra. Atau di bagian lain, teori sastra dikatakan juga sebagai teori kritik sastra.[4] Jadi, pembicaraan mengenai strukturalisme atau semiotik, misalnya, dianggap sebagai bagian dari pembicaraan teori kritik sastra. Continue reading “SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI DAN KRITIK SASTRA INDONESIA”

Vagina yang Haus Sperma:

Heteronormatifitas dan Falosentrisme dalam Novel Ayu Utami
Katrin Bandel
http://www.facebook.com/group.php?gid=38840078585

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdebat dengan seorang kawan mengenai karya Ayu Utami. Setelah membaca beberapa tulisan saya yang mengkritik karya itu dan mempertanyakan politik sastra seputarnya, kawan saya tersebut dapat memahami pandangan saya. Tapi meskipun demikian, baginya novel Ayu Utami tetap memiliki sebuah kelebihan: Menurut pengamatannya, novel Saman merupakan karya pertama yang dengan cukup tepat merepresentasikan gaya hidup kelompok masyarakat tertentu, yaitu gaya hidup yang dipilih sebagian perempuan kelas menengah perkotaan di Indonesia (terutama Jakarta). Continue reading “Vagina yang Haus Sperma:”

Bahasa »