TEATER SURABAYA DI TENGAH KRISIS PENGAMATAN

Rakhmat Giryadi

Kalau kita hitung, berapa jumlah teater nonkampus –untuk tidak menyebut profesional- di Surabaya? Kalau kita hitung-hitung tak melebihi jumlah jari tangan. Sementara yang masih eksis ‘berproses’ barangkali cuma berjumlah separuhnya. Beberapa bisa kita sebut, Teater Tobong, Teater Api Indonesia (TAI), Teater Jaguar, dan –mungkin- Bengkel Muda Surabaya, Teater Ragil. Untuk sementara kelompok-kelompok inilah yang masih memiliki greget menggairahkan perteateran di Surabaya. Bahkan mereka bisa diklaim sebagai rujukan eksistensi teater Surabaya di tingkat nasional. Continue reading “TEATER SURABAYA DI TENGAH KRISIS PENGAMATAN”

Memorabilia untuk Pramoedya Ananta Toer

Fahrudin Nasrulloh *
jawapos.com

Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan.
Duniaku bumi manusia dengan segala persoalannya (Rumah Kaca: hlm. 38)

Pada sore 6 Februari 2009 yang bergerimis ritmis, sampailah saya di Jl Sumbawa 40, Jetis, Blora. Di sepanjang perjalanan dari Jombang, saya terus terusik, apa yang membuat Pramoedya Ananta Toer tak pernah lekang dikenang dan tiada surut ditelusuri banyak orang, terutama kaum pramis dan kawula pergerakan? Continue reading “Memorabilia untuk Pramoedya Ananta Toer”

Jatuh Bangun Pengarang Jawa

Sucipto Hadi Purnomo
http://www.suaramerdeka.com/

KETIKA pada tahun 1980-an Suripan Sadi Hutomo menyebut sastra Jawa sedang memasuki era sastra majalah, lantaran karya-karya yang ada hanya tersuguhkan lewat majalah, Suparto Brata pun gerah. Serasa tak pernah lelah, dia kemudian melakukan ”perlawanan”. Seraya menganggap ketergantungan pada majalah hanya akan membuat sastra Jawa menjadi sastra bonsai, dia pun mengajak banyak pihak untuk menerbitkan karya dalam bentuk buku. Tak cuma mengajak, tetapi juga jatuh-bangun mbandhani karya-kayanya. Continue reading “Jatuh Bangun Pengarang Jawa”

Bahasa »