Pengganti Kang Ajip

Iman Budhi Santosa
suaramerdeka.com

SEBAGAI orang yang ikut kemringet nguri-uri kesusastraan dan kebudayaan Jawa, saya benar-benar tidak mudheng. Mengapa gagasan memberi anugerah sastra Jawa selama ini tidak mrenthul dari kalangan orang Jawa, melainkan digagas dan direalisasikan oleh seorang Ajip Rosidi, orang Sunda yang menggeluti sastra dwibahasa (Sunda dan Indonesia) melalui anugerah Rancage. Memang, semula Hadiah Rancage hanya bagi sastra Sunda, namun akhirnya toh meluas juga, menyantuni sastra Jawa dan Bali, bahkan Lampung. Continue reading “Pengganti Kang Ajip”

GERAK PERJALANAN ESTETIK CERPEN INDONESIA

Maman S. Mahayana *

Cerita pendek Indonesia dalam satu dasawarsa ini, agaknya makin mengukuhkan jati dirinya. Ia tak hanya muncul seperti gelombang yang secara kuantitatif melampaui penerbitan novel dan drama, tetapi juga seperti menempatkan dalam mainstream-nya sendiri. Maka, tidak dapat lain, pembicaraan mengenai cerpen Indonesia, mesti dilekatkan pada dirinya an sich dan bukan sebagai tempelan atau sekadar pelengkap. Kini cerpen Indonesia menunjukkan jalan hidupnya yang lebih mandiri. Kajian kritis terhadapnya dan pembicaraan cerpen dalam institusi (pendidikan) sastra, oleh karena itu, mesti berada dalam kotak tersendiri. Continue reading “GERAK PERJALANAN ESTETIK CERPEN INDONESIA”

Rendra, 70 Tahun

Goenawan Mohamad
http://www.korantempo.com/

Rendra adalah sebuah pergulatan yang penting dalam sejarah pemikiran Indonesia. Hidupnya yang kini mencapai 70 tahun terbentang dalam sebuah masa yang panjang di mana percakapan, gagasan, dan kekuasaan bentur-membentur. Dan ia ada di dalam perbenturan itu, ia adalah perbenturan itu, sebagai pelaku, saksi, dan juga penderita.

Tapi baiklah saya mulai dengan mengatakan apa yang sudah umum diketahui: Rendra, sejak ia berangkat sebagai penyair, adalah sebuah suara tersendiri. Continue reading “Rendra, 70 Tahun”

BELAJAR MENULIS DARI ISBEDY STIAWAN ZS

Sutejo
Ponorogo Pos

Nama penyair Lampung ini tampaknya tidak seakrab nama sastrawan kita macam Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, Hamid Jabbar, Sutardji Calzoum Bahri, Wiji Thukul, dan lain sebagainya. Meskipun begitu dalam Isbedy adalah sastrawan yang tidak perlu lagi dipertanyakan komitmen dan eksistensinya dalam dunia kepenyairan (belakangan juga memasuki dunia cerpenis). Ada beberapa hal menarik dari pengakuannya. Continue reading “BELAJAR MENULIS DARI ISBEDY STIAWAN ZS”

Nol

Arie MP Tamba
jurnalnasional.com

Nol Buku! Itulah puncak sarkasme yang pernah dilontarkan penyair Taufiq Ismail tentang jumlah buku sastra wajib di sekolah-sekolah menengah kita. Padahal, di jenjang pendidikan yang sama, (tidak untuk memuji, tapi mengemukakan fakta), pada zaman Belanda, masing-masing siswa harus membaca 15 sampai 20 buku sastra wajib. Jumlah yang masih terus dipertahankan sampai kini di sekolah-sekolah menengah di Eropa, Amerika, bahkan Asia, seperti Singapura, Jepang, Malaysia, dan juga Brunai Darussalam. Continue reading “Nol”

Bahasa ยป