Risiko Kritik(us)

Aminudin TH Siregar
http://kompas-cetak/

Tulisan Bre Redana dan Afrizal Malna yang dimuat dalam harian ini (Kompas, 6 Mei 2007) sama-sama mempermasalahkan peran dan fungsi kritik(us) seni atau boleh dibilang keduanya tengah mempertanyakan kemerosotan “aura” (pamor) kritik seni. Menurut Bre, dibalik agresivitas pasar mengonsumsi karya-karya seni rupa kontemporer, diam-diam posisi kritikus jadi dilematis. Bre curiga, pasar sesungguhnya tidak membutuhkan acuan dari seorang kritikus, sebab pasar sanggup berjalan dengan logikanya sendiri. Continue reading “Risiko Kritik(us)”

Kritik

Arie MP Tamba
jurnalnasional.com

Sebagai seorang pembaca karya sastra, saya mempercayai apa yang dikatakan Jauss yang kemudian lebih dikenal sebagai paham teori resepsi, bahwa karya sastra bukanlah sebuah obyek yang berdiri sendirian dan menawarkan wajah yang sama kepada setiap pembaca dalam setiap periode. Sebab, lanjut Iser (temannya Jauss), setiap pembaca selalu berpartisipasi aktif dalam pembacaannya, sesuai cakrawala harapan atau pengetahuan kesusastraannya masing-masing. Continue reading “Kritik”

Epik dan Lirik yang Panjang Umur

Asarpin
lampungpost.com

Biasanya saya akan menjawab agak ragu: Dengan seluruh tubuhnya. Ototnya menarik denyut pikiran, bulu pada dagingnya mengernyitkan denyar rasa yang menukik di kedalaman, otaknya bekerja merangsang bibir, gigi, lidah menggiring darah. Darah pada jantungnya memompa mesin perasaan, paru-parunya menapaskan atau mengembuskan. Maka jadilah puisi. Dan kena sentuh puisi Iswadi, maka bahasa membatu dan selanjutnya ia tamat sebagai bahasa; ia menjelma sajak. Continue reading “Epik dan Lirik yang Panjang Umur”

Sastra Pun Berdiaspora

Ilham Khoiri, Budi Suwarna
kompas.com

Lama sudah sastra menempati ruang sakral milik kalangan elite sastrawan yang menulis bak empu menempa keris. Ketika teknologi informasi kian canggih dan medan sosial makin terbuka, kini dunia penulisan mencair dan mengalami “booming”. Semua orang seperti keranjingan menulis, komunitas sastra bermunculan, buku-buku terbit, dan internet diramaikan puisi atau cerpen. Continue reading “Sastra Pun Berdiaspora”

Chairil, si Penyair “binatang jalang”

Zul Afrita
padangekspres.co.id

Tuhanku/ Dalam termangu/ Aku masih menyebut namaMu// Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh// cayaMu panas suci// Tuhanku// aku hilang bentuk/ remuk// Tuhanku // aku mengembara di negeri asing// Tuhanku/ di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling. (Doa, Chairil Anwar). Meskipun telah tiada, namun Penyair “binatang jalang” itu tetap hidup bersama sajaknya. Continue reading “Chairil, si Penyair “binatang jalang””

Bahasa »