WAJAH TASAWUF DALAM SASTRA (5)

: PERLAMBANGAN
Djoko Saryono *

Gagasan-gagasan tasawuf dalam sastra – yang merupakan transformasi dan manifestasi ajaran tasawuf – biasanya tak dituangkan secara lugas dan langsung, tetapi sering dituangkan dengan memanfaatkan lambang-lambang (simbol-simbol). Itu sebabnya, sastra bernafaskan tasawuf atau sastra sufistis demikian kaya dan pekat akan perlambangan (simbolisme) dan metafora. Continue reading “WAJAH TASAWUF DALAM SASTRA (5)”

Covid-19, Momentum Kebangkitan Puisi Doa

Imam Nawawi *

Covid-19 telah memakan ribuan nyawa manusia, dan pada saat bersamaan dari rahimnya, lahir era baru: “Puisi Doa.” Semua figur publik misalkan dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa membacakan puisi berjudul Li Khomsatun, yang diyakini sebuah hizib dalam aliran tarekat Syadziliyah dan Naqsyabandiyah. Kemudian disusul Mahfud MD., yang membacakan puisi milik Chairil Anwar. Lalu bapak Menko Polhukam mengatakan, “Saya bersama para Menko, ketua DPR, DPD dan MPR, membaca puisi doa bersama.” Continue reading “Covid-19, Momentum Kebangkitan Puisi Doa”

Mengakhiri Pembiaran Sastra

Taufik Ikram Jamil *
Kompas, 29 Des 2012

Jauh dari perhatian publik, akhir November lalu terjadi dua peristiwa kesusastraan yang patut mendapat catatan di Indonesia. Hanya berselang lima hari setelah pendeklarasian Hari Puisi Indonesia di Pekanbaru, 22 November, di Makassar berlangsung Pertemuan Pengarang Indonesia pada 25-27 November.

Dua peristiwa tersebut dapat dikatakan sebagai upaya pemartabatan sastra dengan segala ironi yang melatarbelakanginya. Continue reading “Mengakhiri Pembiaran Sastra”

Suparto Brata, Begawan Sastra Jawa

Tito Setyo Budi *
Kompas, 31 Jan 2016

Ada tiga nama besar yang tergolong pengarang anapas landhung (memiliki napas panjang, artinya mampu membuat cerita-cerita panjang) dalam sastra Jawa modern, yaitu Esmiet, Tamsir AS, dan Suparto Brata. Ketiganyalah yang secara bergantian mengisi lembar-lembar cerita bersambung di tiga majalah berbahasa Jawa terkemuka, yaitu Panjebar Semangat dan Jaya Baya (keduanya terbitan Surabaya) serta Djaka Lodang (terbitan Yogyakarta), dalam kurun waktu tiga dasawarsa, dari tahun 1960-an hingga 1980-an. Continue reading “Suparto Brata, Begawan Sastra Jawa”

Bahasa »