Mengenang Balai Pustaka (BP)

Bandung Mawardi *
Koran Tempo, 30 Mar 2013

Di ujung tahun 1971, Nur Sutan Iskandar mengenang Balai Pustaka. Pengarang tua ini memiliki memori panjang tentang Balai Pustaka, sejak 1919. Semula, Nur Sutan Iskandar bekerja sebagai guru di Palembang dan Padang. Lakon hidup berubah oleh sepucuk surat Sutan Mohamad Zein dari Jakarta. Isi surat menganjurkan Nur Sutan Iskandar berhenti jadi guru, berpindah ke Jakarta untuk bekerja di Balai Pustaka (Intisari, Nomor 98, September 1971). Continue reading “Mengenang Balai Pustaka (BP)”

Bentrok Tafsir dalam Kajian Akademis Sastra

Arif Bagus Prasetyo *
Kompas, 07 Mei 2016

Baru-baru ini terbit buku Sastra dan Politik: Representasi Tragedi 1965 dalam Negara Orde Baru (2015) karya Yoseph Yapi Taum. Buku ini menyoroti politik ingatan Orde Baru tentang tragedi 1965. Secara besar-besaran, sistematis, dan kontinu, rezim Orba menciptakan dan memasyarakatkan berbagai representasi tentang tragedi 1965, mulai dari pemberitaan G30S di harian Berita Yudha dan Angkatan Bersendjata, penerbitan buku sejarah, sampai produksi film Pengkhianatan G30S/PKI. Continue reading “Bentrok Tafsir dalam Kajian Akademis Sastra”

Sastra, Etnisitas, dan Kebangsaan

Suryadi *
Kompas, 12 Mei 2013

Wacana sastra Indonesia sudah lama berperan sebagai sarana bagi penyemaian semangat kebangsaan. Pada zaman kolonial, karya sastra telah ikut memberi andil dalam melahirkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang akhirnya berhasil mengusir penjajah. Para founding fathers Republik Indonesia umumnya adalah intelektual pribumi yang memperoleh semangat anti-penjajahan lewat beragam bacaan sastra. Continue reading “Sastra, Etnisitas, dan Kebangsaan”

Gundala dan Sastra Panggung yang Canggung

Ardus M Sawega *
Kompas, 15 Des 2013

Ketika kelompok Teater Gapit dari Solo, Jawa Tengah, muncul pada tahun 1980, tebersit harapan bahwa itu bakal menjadi momentum ”kebangkitan sastra Jawa”. Setidaknya dalam bentuk ”sastra panggung”. Teater Gapit yang dibentuk dari kalangan mahasiswa Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI, sekarang ISI) Surakarta mendadak menjadi tumpuan banyak kalangan setelah beberapa dekade sastra Jawa seakan mengalami kemandekan. Continue reading “Gundala dan Sastra Panggung yang Canggung”

Bahasa »