(Sebuah Laporan Hasil Baca)

Anton Wahyudi * Continue reading “PENCARIAN PANJANG DI NEGERI PASANG SURUT”
Esai
(Sebuah Laporan Hasil Baca)

Anton Wahyudi * Continue reading “PENCARIAN PANJANG DI NEGERI PASANG SURUT”
Afrizal Malna *
Media Indonesia, 6 Jan 2013
DI Berlin, seorang anak muda membuat pembayangan sebuah bangsa melalui restoran. Ia menawarkan daftar menu masakan Maroko. “Usia saya 20 tahun,” katanya. “Saya lahir di Berlin.” Ia hidup di dua dinding. Dinding latar identitasnya justru tidak berada bersamanya, tapi terus direproduksi melalui keluarga. Latar yang telah menjadi pabrik pembatalan aku dari konteksnya, reproduksi identitas yang berlangsung secara mekanis. Continue reading “Sastra dan Pabrik Pembatalan Aku”
Alex R. Nainggolan *
Lampung Post, 4 Nov 2012
Puan dan tuan yang terhormat,
Membaca puisi adalah membaca kata. Ketika isi kepala bercampur dengan segala pengetahuan, menyulingnya dari segala macam kisah, mendedahkan makna yang terkandung di dalamnya. Semacam masuk labirin yang panjang. Mengetuk di pelbagai pintu. Syukur bisa masuk dan bertemu dengan ragam makna dan kisah. Itulah, terkadang saat membaca sebuah puisi terasa berbeda antarpribadi untuk meresapinya. Mulanya adalah rasa, kemudian berlanjut dengan ketegangan. Continue reading “Puisi yang Kukuh Merengkuh Realitas”
Leon Agusta *
Kompas, 13 Jan 2013
TAK ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu di bawah langit. Selalu pula ada cara pendekatan baru terhadap sesuatu yang sudah berlalu—terhadap sesuatu—misalnya karya dari masa silam. Dari segala sesuatu yang ada sebagian elemen sudah dieksplorasi, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin ada elemen lain yang dapat dieksplorasi. Continue reading “Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai”
Tjahjono Widijanto
Suara Karya, 9 Mar 2013
Penyair Sutardji Cazloum Bachri pada sebuah tulisan Catatan Kebudayaan di Majalah Horison berjudul “Rasa Hormat Maksimal Terhadap Puisi” berseloroh bahwa sastrawan dan karya sastranya bisa dikelompokkan sebagai olahragawan, karena olahraga disamping menyehatkan badan juga bisa menghibur dan menyegarkan jiwa. Continue reading “Dari Tamasya Bahasa ke Refleksi Intelektual”