
(Pusake UNJ: Irsyad Ridho, Niduparras Erlang, Amar Ar-Risalah, dan Putera Sukindar)
Niduparas Erlang Continue reading “BERMAIN-MAIN DENGAN SEJARAH”
Esai

(Pusake UNJ: Irsyad Ridho, Niduparras Erlang, Amar Ar-Risalah, dan Putera Sukindar)
Niduparas Erlang Continue reading “BERMAIN-MAIN DENGAN SEJARAH”

Saut Situmorang Continue reading “Realisme Fiksi Indonesia”
Djoko Saryono *
/1/
Dalam pemikiran sastra atau teori sastra modern dan malah mutakhir, paradigma kebahasaan berperanan sangat kuat dalam menentukan keberadaan sastra dan mencipta¬kan definisi sastra. Bahasa menjadi alas, dasar, dan landasan keberadaan dan definisi sastra. Pemikiran Rolland Barthes, Roman Jakobson, Gerard Genette, Tzvetan Todorov, Julian Kristeva, Derrida, dan Colin MacCabe, misalnya, menempatkan bahasa sebagai paradigma keberadaan dan pendefinisian sastra. Demikian juga teori-teori formalis, stilistika, strukturalis, pascastrukturalis, hermeneutika, dan dekonstruksi, misalnya, melihat keberadaan dan definisi sastra melalui bahasa. Continue reading “RISIKO SASTRA DI BAWAH SUBORDINASI BAHASA”
Tjahjono Widijanto *
Republika, 13 Apr 2008
Seperti halnya sejarah, sastra juga mengenal mitos. Mitos dalam sastra ibaratnya perambah jalan sekaligus memberikan ruang kosong bagi generasi selanjutnya. Sebaliknya, seorang kreator, apapun genre yang dimasukinya tidak dapat melepaskan dirinya sebebas-bebasnya dari jejak-jejak pendahulunya yang ikut menyediakan jalan untuk dilaluinya. Continue reading “Puisi Kontemporer, Antara Amir dan Chairil”
Damiri Mahmud *
Kompas, 26 Juli 2009
Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Masa kecilnya sehingga dia dewasa dihabiskannya di Medan. Baru pada tahun 1941, atau menurut Keith Foulcher malah tahun 1942, dia pindah ke Jakarta mengikuti ibunya, Saleha, karena berpisah dengan ayahnya, Toeloes, seorang pamong praja Belanda. Ini berarti sebagian besar masa hidupnya dihabiskan Chairil di Medan. Continue reading “Di Manakah Rumah Chairil Anwar di Medan”