BERMAIN-MAIN DENGAN SEJARAH


(Pusake UNJ: Irsyad Ridho, Niduparras Erlang, Amar Ar-Risalah, dan Putera Sukindar)

Niduparas Erlang

Hubungan antara sejarah dan sastra adalah hubungan yang kompleks dan paradoksal. Keduanya tak pernah benar-benar berjauhan, sekaligus juga tak pernah benar-benar berlekatan. Sebab, jika kita melihatnya—di satu sisi—bahwa sejarah ditulis dengan tendensi objektif sedangkan sastra dikarang dengan tendensi subjektif; sejarah berbasis data konkret, fakta, dan kenyataan, sedangkan sastra berbasis fiksi, imajinasi, dan khayalan; maka keduanya akan tampak berada dalam tegangan antara faktualitas sejarah dan fiksionalitas sastra. Seakan antara sejarah dan sastra terpisahkan sedemikian jauhnya.

Namun, jika kita melihat—sisi lainnya—bahwa tak sedikit pula karya sastra yang ditulis berdasarkan sumber sejarah, atau sejarah yang ditulis dalam bentuk karya sastra, maka keduanya akan tampak tak terpisahkan. Dalam hal terakhir ini, sastra dapat kita sebut sebagai “bentuk” dan sejarah sebagai “isi”. Sekadar contoh, kita bisa menyebut misalnya, Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa Mangunwijaya, atau novel-novel biografis lainnya. Sekalipun, hubungan antara bentuk-sastra dan isi-sejarah ini tidaklah sesederhana kelihatannya. Sebab bagaimanapun, dalam perspektif sejarah, sastra tidak dijadikan sumber rujukan untuk melihat faktualitas-sejarah sebab antara fakta dan fiksi, berita dan cerita, kenyataan dan khayalan yang terkandung dalam sastra itu tentu telah bercampur-baur sedemikian rupa; sastra bukanlah sumber rujukan sejarah sekalipun suatu karya sastra benar-benar merekam atau merespons suatu kenyataan sejarah. Namun begitu, hal ini tidaklah menggugurkan bahwa antara sejarah dan sastra memiliki hubungan yang tak terpisahkan, tampak kompleks dan paradoks: sastra dan sejarah tampak selamanya berada dalam suatu tegangan yang tarik-menarik; jauh sekaligus dekat, dekat sekaligus jauh.

Dengan melihat hubungan antara keduanya dengan cara seperti itu, paling tidak, sedikitnya kita dapat “merumuskan” tiga hal mengenai kedekatan antara sejarah dan sastra. Pertama, sastra yang merekonstruksi sejarah dari sumber-sumber terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan secara objektif. Kedua, sastra yang merekam dan merespons peristiwa-peristiwa sejarah yang tengah terjadi dalam suatu masyarakat. Ketiga, sastra yang mempertanyakan dan/atau menafsirkan ulang “kebenaran” sejarah demi melihat relevansinya dengan masa kini dan masa mendatang.

Nah, dalam membaca antologi cerpen Desas-desus tentang Kencing Sembarangan karya Amar Ar-Risalah, dkk. ini, agaknya kita dapat menggunakan ketiga kategori mengenai kedekatan antara sejarah dan sastra untuk meneroka cerpen-cerpen di dalamnya. Walaupun, secara general dapat saya katakan bahwa para cerpenis yang tergabung dalam penerbitan antologi ini tampak berupaya untuk memasuki arena dalam kategori yang ketiga, yaitu sastra (cerpen) yang mempertanyakan dan/atau menafsirkan ulang “kebenaran” sejarah—apalagi, tanpa tedeng aling-aling para cerpenis ini menyebut “sejarah” hanya sebagai “desas-desus”. Untuk itu, perlu ditekankan di sini bahwa definisi “sejarah” yang saya gunakan adalah definisi yang longgar saja, dan tidak dalam pengertian sejarah sebagaimana rumusan Herodotus, Ranke, Dilthey, Burckhardt, atau Notosusanto. Maka, dalam paper ini, saya tak akan begitu membedakan antara mitos, legenda, dongeng, hikayat, toponimi, desas-desus, atau lainnya, dengan “sejarah” yang saya maksud. Bukankah cerita-cerita skriptural atau kisahan-kisahan penciptaan, genesis, juga diimani sebagian kita sebagai kebenaran “sejarah” agama-agama?

Ah, baiklah. Mari kita meneroka cerpen-cerpen dalam antologi cerpen Desas-desus tentang Kencing Sembarangan ini—meskipun, karena keterbatasan ruang dan waktu dan tentu saja keterbatasan kompetensi, tidak semua cerpen dalam antologi ini bisa saya dedahkan. Dalam paper ini, saya hanya akan membahas beberapa cerpen yang, menurut hemat saya, tidak cukup berhasil bermain-main dengan sejarah dan malah cenderung semakin mengukuhkan kebenaran sejarah yang telah ada dan berterima, dan cerpen-cerpen yang cukup berhasil menjungkirbalikan narasi sejarah sekaligus menawarkan semacam alternatif kebenaran yang selamanya relatif itu.

Upaya bermain-main dengan “sejarah” tampak pada cerpen “Pondok Haji Zakaria” karya Amar Ar-Risalah, misalnya. Melalui cerpen ini, tampak kepada kita bahwa penulisnya menggunakan strategi literer a la cerita-cerita legenda untuk menunjukkan toponimi dari nama-nama tempat yang masih kita kenali hari ini, seperti Situ Pancoran Mas, Pondok Terong, dan Depok. Kisahan Haji Zakaria, pemilik suatu padepokan yang diwarisi—dan kemudian mewariskan—Sarung Ki Langkap beserta ilmu kanuragan Asma Basyama kepada dua santrinya yang terpercaya dalam masa persiapan melawanan penyerbuan tangsi Belanda, dan dibumbui dengan adegan pertarungan laiknya cerita-cerita silat, sekadar digunakan Amar untuk mengukuhkan kebenaran “sejarah” bahwa nama-nama suatu tempat memiliki “sejarah”-nya sendiri.

Tak jauh berbeda dengan cerpen “Padepokan Haji Zakaria”, cerpen “Ieshua Hamasyhiakh” juga menggunakan strategi literer yang mirip. Kali ini Amar tidak menyesapnya dari legenda, melainkan dari kisahan-kisahan dalam dua kitab suci dari dua agama besar, Kristen dan Islam, yaitu narasi penyaliban Sang Juru Selamat Yesus Kristus atau Isa Almasih Putra Mariam. Dalam cerpen ini, Amar tampak tidak berupaya menegasikan salah satu versi kebenaran sejarah atas narasi penyaliban dan perselihan berkepanjangan yang menyertainya. Keduanya diterima, tapi sekaligus keduanya disangsikan secara samar-samar. Apakah Sang Juru Selamat Yesus Kristus atau Yudas Iskariot yang disalib di atas bukit Golgota? Pembaca tak diberikan jalan keluar, selain mesti kembali mengakui kebenaran “sejarah” bahwa Sang Messiah akan kembali menjelang kiamat.

Kedua cerpen di atas, tak memberikan tawaran lain selain sekadar mengisahkan ulang kebenaran sejarah yang telah kita imani, meski dengan sedikit kesangsian yang samar-samar. Padahal, sebuah cerita pendek dapat saja memberikan kebenaran alternatif dari sekadar mengukuhkan kembali kebenaran-kebenaran sejarah yang telah cukup lama menjadi kebenaran iman itu.

Masih mengenai narasi penyaliban Yesus, sudut pandang lain tampaknya coba tawarkan oleh cerpen “Anak Haram” karya Dirham Damara. Dengan mengambil sudut pandang tokoh utama (keakuan) si Anak Haram hasil perkawinan antara iblis dan malaikat, cerpen ini memaparkan berbagai peristiwa dari mulai kelahiran Yesus, penyaliban—yang sayangnya merembeskan versi Islam—, kelahiran hingga kematian Muhammad, dan perpecahan agama-agama menjadi berbagai sekte atau aliran kepercayaan. Saya menduga bahwa cerpen ini semacam refleksi penulisnya dalam menyikapi sekelompok orang yang belakangan ini begitu gampangan mengkafirkan orang lain sekalipun agama mereka berasal dari nabi yang sama atau Tuhan yang sama. Sayangnya, pemahaman Dirham terhadap agama-agama Abrahamik itu tampak kurang memadai sehingga kelemahan-kelemahan elementer masih tampak kentara di sana-sini.

Cerpen lainnya yang sekadar menarasikan ulang demi mengukuhkan kebenaran “sejarah”—dan bukan bermain-main dengan kebenaran “sejarah” itu—tampak dalam cerpen “Verhoeven” dan “Jayakarta” karya Ridwan. Kedua cerpen ini seperti sengaja ditulis dengan memanfaatkan berbagai rujukan sejarah yang telah tersedia, faktualitas sejarah itu, dan dijadikannya fiksionalitas cerita secara begitu saja.

Sementara itu, cerpen “Dini Hari, Tentang Buku Bersampul Merah” karya Doni Ahmadi lebih kentara sebagai suatu gugatan kebenaran sejarah resmi versi pemerintah (Orde Baru?). Dan menariknya, cerita ini tidak terjadi pada masa setelah tumbangnya rezim tersebut, tapi justru terjadi pada saat rezim itu masih sangat berkuasa. Adalah seorang guru sejarah, Pak Whiji Nusantara, yang memberikan tugas kepada para siswanya untuk menilai siapakah di antara Adolf Fuehrer, Il Duce, Losif Vissarinovich, dan Presiden—yang dalam cerpen ini bernama Pak Tohar—yang paling serakah, bengis, dan kejam? Di akhir cerita, tokoh “Aku” ternyata mesti membacai berbagai “kebenaran” sejarah lain—melalui berbagai sumber sejarah—di luar sejarah resmi yang umum dipercayai sebagai satu-satunya kebenaran “sejarah”.

Dalam hal ini, cerpen “Dini Hari, Tentang Buku Bersampul Merah” ini seakan mengajak kita untuk membaca ulang berbagai-bagai versi sejarah, memeriksa ulang klaim kebenaran sejarah resmi, sejarah agama-agama, sejarah masa lalu kita. Melalui cerpen ini, seolah Doni menyaran betapa kebenaran adalah sesuatu yang sangat relatif, tergantung dari seberapa banyak dosis kebenaran “sejarah” yang kita konsumsi dan dari pihak mana kita mendapatkannya.

Pembacaan ulang terhadap berbagai-bagai versi sejarah ini tampaknya menjadi penting kita lakukan hari-hari ini. Baik itu untuk merekonstruksi sejarah, atau menampilkan “sejarah-baru” (bukan dalam pengerti new historisisme-nya Ranke) sebagai kebenaran alternatif bagi kita hari ini. Dan saya cukup senang dengan upaya bermain-main dengan kebenaran “sejarah” yang dilakukan oleh Marendra Agung melalui cerpen “Menjelma Semar”, misalnya. Cerpen yang dituturkan secara lincah ini, menurut saya, benar-benar bermain-main dengan “sejarah”—bukankah tokoh-tokoh dalam dunia perwayangan itu telah dipercaya sebagai kebenaran “sejarah” oleh sekolompok masyarakat kita?

Betapa, cerpen dengan tokoh para dewa-dewi di semesta Kahyangan ini, mengetengahkan pertarungan sengit antara Dewa Murwakala dan Dewa Ismaya dalam suatu arena sayembara. Kita disuguhi pertarungan yang memikat, tidak seperti kisahan cerita-cerita silat, namun lebih mirip pertarungan antara dua hero di dalam suatu game. Pertarungan antara Murwakala dan Ismaya itu adalah demi menjalankan perintah Dewa Jagad Pratingkah atas titah Sang Hyang Tunggal untuk memilih salah seorang dewa yang akan dikirimnya ke semesta Bumi sebagai manusia, sebagai pengasuh, untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran. Dan di akhir pertarungan, dengan berbagai senjata yang diambil dari semesta Bumi—pertarungan yang, sekali lagi, lebih mirip game dan digambarkan secara anekdotal—keluarlah Dewa Ismaya sebagai pemenang.

Di akhir cerita, Ismaya yang telah dikirim ke semesta Bumi dan menjadi manusia, menjadi Semar, “melamar pekerjaan” ke rumah keluarga Pandu Pandawanata sebagai pengasuh bagi Nakula dan Sadewa yang ternyata senang bermain PlayStation. Dengan penanda PlayStation ini, kita dapat maknai pertarungan dan kemenangan Ismaya sebagai suatu permainan yang justru telah ditentukan oleh game dalam PlayStation yang dimainkan Nakula dan Sadewa. Usai membacanya, kita boleh bertanya, adakah Dewa Jagad Pratingkah dan Sang Hyang Tunggal adalah dua bocah bernama Nakula dan Sadewa yang mengendalikan semesta Kahyangan dengan stick game PlayStation itu? Saya tak tahu.

Cerpen lainnya yang menyedot perhatian saya adalah cerpen “Dari Luca, Sembilan Belas Tahun Silam” karya Doni Ahmadi. Yang menarik dari cerpen ini adalah bahwa tokoh Luca bukanlah seorang tokoh masyarakat sebagaimana Haji Zakaria atau Yesus atau Dewa, melainkan hanyalah seorang pendukung klub kesebalasan sepak bola (Capotifoso). Melalui cerpen ini, Doni cukup berhasil menyuguhkan narasi “sejarah” tentang orang-orang kecil, masyarakat biasa, yang dalam rumusan Michelet disebut sebagai “sejarah orang-orang yang menderita, para pekerja, orang-orang yang teraniaya dan mati yang tak mampu mendeskripsikan penderitaan mereka sendiri”.

Selain dalam upaya bermain-main dengan “sejarah” itu, antologi cerpen ini juga menyuguhkan tentang berbagai kisah ajaib layaknya negeri dongeng melalui cerpen “Batu” karya Mussab Askarulloh, “Zakar” karya Aji Saputra, dan “Masaku, Lalu Masa Meraka” karya Arief Budiman. Sementara cerpen “Desas-desus tentang Kencing Sembarang” karya Sukindar Putera adalah semacam upaya meciptakan mitos yang malah menemukan “kebenarannya sendiri” yang barangkali adalah mitos juga. Hal yang sama tampak juga dalam cerpen “Keajaiban Air Mantra” yang kebetulan dikarang oleh penulis yang sama.

Ya, bermain-main dengan “sejarah” memang menyenangkan. Namun, tak semua permainan dapat kita menangkan. Itu saja! [*]

Depok, 22 Oktober 2016

[Bahan diskusi antologi cerpen Desas-desus tentang Kencing Sembarangan karya Amar Ar-Risalah, dkk., di Pustake Pusake Betawi, Universitas Negeri Jakarta, 24 Oktober 2016, pukul 15.30 s.d. 18.00 WIB]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *