Politik Teori Sastra di Indonesia

Muhammad Al-Fayyadl

Pendahuluan

SECARA empiris-historis, kritik sastra dipisahkan dari aktivitas politiknya sejak lenyapnya estetika realisme sosialis seiring dilenyapkannya para sastrawan Lekra dari panggung kritik sastra sejak akhir dekade 1960-an. Koinsidensi antara peristiwa politik (politisida 1965) dan peristiwa kritik sastra (separasi antara kritik sastra dan politik) menegaskan kembali, secara paradoksal, ketakterpisahan politik dari dunia sastra dan dunia sastra dari konteks politiknya. Continue reading “Politik Teori Sastra di Indonesia”

KEARIFAN LOKAL VIS A VIS KAPITALISME

Aprinus Salam *

Hingga hari ini kita masih menghidupkan secara sistematis apa yang disebut kearifan lokal. Kita menyeminarkannya, menerbitkan buku, menyelenggarakan berbagai kegiatan dengan dan atas nama kearifan lokal, seperti permainan dan seni tradisional, berbagai karnaval yang mengandung nilai dan filosofi lokal, dan sebagainya. Persoalannya, apa yang terjadi di balik revitalisasi kearifan lokal, sementara kapitalisme dengan banal terus berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Continue reading “KEARIFAN LOKAL VIS A VIS KAPITALISME”

GAGASAN DAN TANGGAPAN

Malkan Junaidi

Saat Ahmad Yulden Erwin merilis daftar penyair tempo hari, saya berpikir itu akan berkelanjutan jadi semacam Tonggak-nya Linus Suryadi AG, yakni merupakan kanon pribadi, yang akan diterima publik setara buku-buku yang mengekspresikan pandangan personal. Saya kecele, karena segera muncul wacana pembentukan tim penyusun untuk menyempurnakan gagasan kanonisasi itu, sehingga—teringat bagaimana ketika buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh beberapa tahun lalu terbit dan menimbulkan konflik berikut ekses-eksesnya—saya membatin, “Wah, sebentar lagi kasak-kusuk dan kegaduhan pastilah terjadi.” Continue reading “GAGASAN DAN TANGGAPAN”

Bahasa ยป