Linearitas Cerita dan Sublimasi Bahasa*

Cerpen-cerpen Raudal Tanjung Banua

Satmoko Budi Santoso *
Media Indonesia

WILAYAH cerita bukanlah area yang memaksudkan dirinya menjadi tak bebas nilai. Wilayah cerita tetaplah berada di dalam koridor keterikatan ruang dan waktu, pengejawantahan aktualitas, dan sederet konvensi lain yang tak begitu saja melepaskannya sebagai fiksi. Wilayah cerita tetaplah mengemban visi dan ideologi tertentu, pandangan dan pesan moral, sehingga aspek fiksionalitas harus ditawar, jika memang aspek ini selalu ingin diunggulkan karena keyakinannya yang (hanya?) bersandar pada kekuatan metafor, imaji, dan ambiguitas makna. Continue reading “Linearitas Cerita dan Sublimasi Bahasa*”

Kode Etik Koruptor

Budi Darma *
hariansumutpos.com

DULU ada kecenderungan, profesi dan pendidikan itu sejalan. Karena itu, seseorang bisa menjadi pengacara karena mendapatkan pendidikan hukum. Dengan demikian, jangan heran kalau dulu ada ungkapan “by training and by profession” karena pekerjaan seseorang tidak jauh amat dari pendidikannya.

Namun, karena perkembangan zaman, seorang dokter bisa menjadi politikus, seorang sarjana sastra bisa menjadi diplomat, dan seorang psikolog bisa menjadi pegawai bank yang tidak ada hubungannya dengan psikologi. Continue reading “Kode Etik Koruptor”

POTRET KULTUR DAN AGAMA KELUARGA BATAK

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Dalam banyak buku yang membicarakan perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, nama Sitor Situmorang sering kali dikaitkan dengan prestasi kepenyairannya. Oleh karena itu, pembahasan terhadap antologi puisinya, jauh lebih banyak dibandingkan dengan pembahasan terhadap cerpen, drama atau esai-esainya. Sekadar menyebut beberapa di antaranya, periksa misalnya buku A. Teeuw, Tergantung pada Kata (1980: 32?40), Subagio Sastrowardojo, Sosok Pribadi dalam Sajak 1980: 56?141), Continue reading “POTRET KULTUR DAN AGAMA KELUARGA BATAK”

Historis Demografisme (Percikan Api yang Meletuskan Pemberontakan)

Daoed Joesoef
kendaripos.co.id

Selain pertentangan kekaryaan dan ikatan, pendekatan historis demografisme terhadap pemahaman tentang tekanan kependudukan mengungkapkan pula adanya pertentangan generasi sosial. Generasi itu adalah keseluruhan orang yang mempunyai kesamaan kepentingan dalam persoalan kebudayaan, organisasi, kontrol, dan merasa solider satu dengan lainnya berhubung kesamaan dalam aspirasi dan cara melaksanakan sesuatu. Dalam generasi sosial itu selanjutnya dapat dibedakan ”generasi muda atau generasi pembaru” dan ”generasi tua atau generasi konservatif”. Continue reading “Historis Demografisme (Percikan Api yang Meletuskan Pemberontakan)”

Bahasa ยป