Rainer Maria Rilke (1875-1926)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=321

Mawar,
ah penyangkalan belaka,
gairah pada yang tak terlelap
di sebalik begitu banyak Kelopak mata
(di batu nisan Rilke, 4 Des 1875 – 29 Des 1926).*

Sejarah hasrat riwayat tubuh, telah ada semenjak di kandungan ibu, pun jauh sebelum terciptanya bumi. Demikian penyair tidak dapat mengelak takdirnya, hadir seperti peralihan jaman, menggelinding tiada mampu menghindari. Continue reading “Rainer Maria Rilke (1875-1926)”

Membaca Cinta Seekor Singa Kurniawan Junaedhie

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

TUJUH puluh sembilan sajak Kurniawan Junaedhie terdapat dalam kumpulan sajak terbarunya, “Cinta Seekor Singa: Sajak-sajak 1974-2009”, terbitan Bisnis 2030. Dengan subjudul “Sajak-sajak 1974-2009” itu terang sudah kumpulan ini merupakan kompilasi, atau semacam rekam-jejak kepenyairan KJ dalam rentang waktu yang tak singkat, 35 tahun. Karena kompilasi, maka dalam “Cinta Seekor Singa” dimuat sajak-sajak yang tentu dimaksudkan KJ menjadi cerminan karya-karyanya di empat periode itu. Tampillah 10 sajak mewakili periode 1970-an, periode 1980-an 18, periode 1990-an 38, periode 2000-an 13 sajak. Pemuatan sajak-sajak itu berurutan sesuai periode penulisannya. Continue reading “Membaca Cinta Seekor Singa Kurniawan Junaedhie”

Kosmologi Santri dalam Kisah

Riadi Ngasiran*
http://dutamasyarakat.com/

Karya sastra yang berkualitas tak harus sesuai dengan selera pasar. Karya yang sesuai dengan kaidah kesusastraraan, yang memperkaya peradaban, belum tentu diminati oleh pihak penerbit profesional karena tak banyak menarik keuntungan. Bila ditilik dari sisi kuantitas karya-karya Pramoedya Ananta Toer tak seberapa memperoleh pasar dibanding dengan karya-karya populer yang diminati oleh pasar dan digandrungi para pembaca. Tapi, bila ia emas tidaklah berubah jadi loyang demikian pula sebaliknya. Continue reading “Kosmologi Santri dalam Kisah”

Sastra Pesantren, Ruang Ekspresi Santri

Adhitya Ramadhan
http://cetak.kompas.com/

Tasikmalaya dijuluki kota santri atau kota pesantren karena banyak sekali pesantren di daerah ini. Oleh pegiat sastra kota di tenggara kaki Gunung Galunggung ini, Tasikmalaya terus digaungkan sebagai kota sastra.

Julukan ini, selain karena banyaknya sastrawan, juga mengacu pada banyaknya acara sastra yang di gelar di Tasikmalaya. Satu komunitas yang terbilang aktif ialah Sanggar Sastra Tasik. Continue reading “Sastra Pesantren, Ruang Ekspresi Santri”

Bahasa ยป