Kau Tahu Siapa Juaranya?

Hasan Aspahani *
batampos.co.id

PELAJARAN penting kartografi: dalam sebuah peta wajib ada tanda utara dan skala. Tanpa tanda arah utara, secarik peta tak ada gunanya, tak bisa menunjuk ke arah lain-lainnya. Tanpa skala, maka jarak tak tertebak.

Saya suka bilang, tulisan-tulisan akhir tahun tentang sastra, pada beberapa tahun belakangan yang saya ikuti seperti peta yang tak lengkap. Selalu begitu. Padahal, orang seperti saya amat memerlukan peta itu. Continue reading “Kau Tahu Siapa Juaranya?”

PUISI SEBAGAI KATA HATI (1)

Kegelisahan Sekjen Departemen Pertanian

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Memed Gunawan, M.Sc., Ph.D. meluncurkan dua antologi puisinya, Ladang Berselimut Kabut (Jakarta, 2005; xi + 74 halaman) dan Setangkai Padi, Seisi Negeri (Jakarta, 2005; ix + 85 halaman). Taufiq Ismail dalam Kata Pengantarnya, berharap: ?Betapa dahsyatnya kalau Sekjen-Sekjen Departemen lain juga menulis kumpulan puisi dalam bidangnya masing-masing.? Pertanyaannya kini: Apanya yang dahsyat? Continue reading “PUISI SEBAGAI KATA HATI (1)”

PUISI SEBAGAI KATA HATI (2)

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Konon, salah satu fungsi sastra adalah menjadikannya semacam katarsis: pelepasan emosi ketika berbagai masalah melimpah, bertumpuk-tumpuk, membebani, dan menghimpit segala gerak pikir dan gerak rasa kita. Sastra dapat melepaskan sebagian dari segala beban itu. Di samping itu, sastra ?dengan atau tanpa pretensi? sering juga dipandang sebagai ungkapan jujur dari perasaan yang terdalam. Continue reading “PUISI SEBAGAI KATA HATI (2)”

Puisi, Antara Simfoni dan Cahaya

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2010/10/poetry-between-symphony-and-the-light/

Awalnya ini tidak disengajakan memprosesikan kreativitas penulisan puisi. Namun setelah terjadi, kehendak itu baru terlahir (hadir). Di saat-saat saya seolah penyair, padahal baru dua kumpulan puisi yang terbit, “Antologi Puisi Persembahan ‘Sarang Ruh’ (1999),” dan “Balada-Balada Takdir Terlalu Dini (2001).” Maka dapat dikategorikan sebentuk proses kreatif awal. Dan tulisan ini pernah dijadikan pengantar dalam diskusi di kampus UNISDA Lamongan, akhir tahun 2001. Continue reading “Puisi, Antara Simfoni dan Cahaya”

Sastra dan E(ste)tika Massa

Yasraf Amir Piliang *
pr.qiandra.net.id

Perbedaan ekspresi kebudayaan sering ditampilkan dalam bingkai pertentangan atau oposisi biner (binary opposition), misalnya, antara budaya tinggi (high culture) dan budaya massa (mass culture). Dalam dunia sastra, khususnya, ada pertentangan antara “sastra tinggi” dan “sastra rendah”. Metafora spasial macam ini dalam sastra digunakan untuk menjelaskan perbedaan antara bentuk-bentuk sastra yang dianggap mempunyai nilai-nilai “luhur” (indah, suci, atas, serius, mulia, tinggi) dan yang mempunyai nilai-nilai “bawah” (rendah, banal, buruk, profan, asal jadi, instan). Continue reading “Sastra dan E(ste)tika Massa”

Bahasa »