PUISI SEBAGAI KATA HATI (1)

Kegelisahan Sekjen Departemen Pertanian

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Memed Gunawan, M.Sc., Ph.D. meluncurkan dua antologi puisinya, Ladang Berselimut Kabut (Jakarta, 2005; xi + 74 halaman) dan Setangkai Padi, Seisi Negeri (Jakarta, 2005; ix + 85 halaman). Taufiq Ismail dalam Kata Pengantarnya, berharap: ?Betapa dahsyatnya kalau Sekjen-Sekjen Departemen lain juga menulis kumpulan puisi dalam bidangnya masing-masing.? Pertanyaannya kini: Apanya yang dahsyat?

Kedua antologi puisi itu seperti potret kegelisahan penulisnya sendiri. Satu kaki berada dalam kehidupan alam pedesaan, dan satu kaki lagi terpaku dalam sistem birokrasi sebagai sekjen. Ia laksana tumpahan unek-unek yang lepas begitu saja mengungkap kata hati, sikap, dan idealismenya tentang dunia pertanian. Maka, bahasanya jadi terasa begitu jujur dan bersahaja. Puisi, baginya, tidak lagi sekadar permainan kata atau ekspresi bahasa yang ditata agar menghasilkan efek kemerduan bunyi dan keindahan puitik, tetapi menghadirkan sosok pribadi yang berada dalam dua dunia: lumpur sawah dan birokrasi. Ia merepresentasikan suara tentang dunia pertanian dengan berbagai problemnya.

Sebagian besar besar puisi dalam kedua antologi itu, mengangkat tema-tema yang erat berkaitan dengan urusan pertanian. Yang lainnya berbicara tentang keluarga, nasib TKI, anak jalanan, pedagang asongan, dan rasa syukurnya kepada Sang Khalik. Cara pengungkapannya terasa khas dan unik, terkadang juga kritis dan pedas. Seperti otokritik yang coba menguak sejumlah masalah yang selama ini terjadi dalam dunia pertanian kita.
***

Dalam buku Sajak Resah Petani di atas Awan: Ladang Berselimut Kabut yang berisi 37 puisi, kita dihadapkan pada sebuah panorama yang buram, agak kelabu, dan pekat-kelam sosok petani dan kaum yang tersisih. Aku liris bertindak sebagai pengamat: memotret, mencatat, dan coba menelusuri nuraninya. Di satu sisi, ia merepresentasikan kegelisahan, di sisi lain, menjadi semacam potret kebersahajaan dan ketersisihan para petani dan wong cilik. Hadirlah di sana sebuah kontras antara mewah?melarat, reputasi dan nasib kaum yang tercampakan.

Lihatlah potret tentang ?Hari-Hari Kang Sarta?. Di sana hadir keberpihakannya, tetapi juga ada jarak tipis antara subjek dan objek. Maka, kegetiran dan perjuangan panjang Kang Sarta, cukuplah digambarkan dengan Hatinya sepi/Tatapannya datar/Punggung bungkuk keriput ? Atau sebagaimana yang terungkap dalam bait terakhir: Dia ada, hidup dan nyata/Dia bicara dan merasa/Dia lelah dan tua// Ada getir mendalam, ada hati yang pecah, dan kita dibawanya berpihak pada empatinya itu.

Simaklah juga paradoks yang sering luput dari perhatian kita. Panen Raya yang mestinya menjadi suka cita petani, kini telah berubah bukan lagi milik mereka. Atau dalam bahasa yang lebih eksplisit: ?Petani masih barang jualan di makalah? (?Program?). Kepedulian itu ternyata tidak berhenti di sana. Di jalanan ketika berhadapan dengan ?Pedagang Asongan? yang berkeringat di tengah terik/Tertatih mengintip? Sementara kita sejuk bersandar nyaman tidak peduli//. Bukankah itu merupakan pemandangan sehari-hari yang menusuk mata kita di setiap pelosok jalanan kota di negeri ini? Ekspresi kepedulian itu ternyata dibawanya pula sampai ke Den Haag. ?Aku bergelimang dalam kelebihan yang tak biasa kualami? sementara mereka (wong cilik yang berbekal cangkul), ??makan sisa dan seadanya.? (?Bayangan Lewat Saat Makan Pagi di Den Haag?).

Begitulah, antologi puisi Sajak Resah Petani di atas Awan: Ladang Berselimut Kabut, seperti hendak menggugat siapa saja. Meski di sana-sini, menyembul nada optimistik, antologi ini ?sadar atau tidak?membawa kita pada empati atas dunia yang selama ini menjadi bagian dari diri kita, tetapi kerap luput dari perhatian.
***

Masih dengan style yang sama, yaitu bermain dengan persajakan dalam larik dan narasi yang mengalir tanpa pretensi, antologi puisi kedua, Setangkai Padi, Seisi Negeri, sebagian besar masih mengangkat tema-tema seputar dunia pertanian. Kita merasakan ada semacam refleksi evaluatif atas berbagai problem di seputar lingkungan kerja, kehidupan wong cilik, catatan perjalanan, renungan untuk keluarga, nostalgia masa lalu, Tenaga Kerja Indonesia, sampai renungan tentang bencana Tsunami. Ada 38 puisi dalam antologi ini yang nadanya terasa agak berbeda dengan antologi pertamanya.

Kali ini, beberapa puisinya cenderung kurang menunjukkan perenungan yang lebih intens. Akibatnya, empati atas kepedihan dan derita kehidupan kaum pinggiran itu, terasa sebagai sikap reaktif. Di sana-sini menjelma pernyataan, bukan narasi yang memancarkan pesona puitik. Bagaimanapun, ketika puisi digunakan sebagai alat ekspresi, usaha menyapa dan menyentuh hati nurani, cenderung efektif jika bangunan estetika menyatu dalam keseluruhannya. Di sinilah limpahan perasaan dan luapan emosi spontan, perlu dievaluasi kembali dan dimaknai melewati proses perenungan yang mendalam.

Meski begitu, dalam sejumlah puisinya yang lain, kita seperti dibawa pada panorama perubahan zaman, potret sosial, kerinduan pada Sang Khalik, dan kepedihan atas nasib wong cilik (: petani). Di sana, ada intensitas perenungan yang mendalam yang disajikan dengan jujur dan mengalir begitu saja. Dengan begitu, sentuhan pada hati nurani terasa lebih kuat, seolah-olah kisah itu menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita.
***

Demikianlah, kehadiran dua antologi karya Memed Gunawan, Sekjen Departemen Pertanian ini, bagaimanapun juga, penting artinya. Secara tematik, kedua antologi itu jelas telah ikut memperkaya khazanah tema perpuisian Indonesia. Ketika ia berbicara tentang petani, sawah, birokrasi pertanian, ternak, proyek, subsidi, TKI, dan kepedulian atas nasib kaum pinggiran, ia jadi terasa khas lantaran dihadirkan oleh pejabat penting pemerintah. Mengingat puisi-puisinya disajikan dengan kejujuran kata hati, yang segera muncul ke permukaan adalah sebuah citra yang sama sekali berbeda dengan pandangan masyarakat terhadap sosok seorang birokrat. Ia seperti merepresentasikan sosok pejabat yang sadar bahwa jabatan tidak lain adalah amanah. Ada kesadaran bahwa kekuasaan sekadar kepercayaan. Segalanya harus dipertanggungjawabkan kepada hati nurani, keluarga, rakyat, bangsa, dan Tuhan.

Jika Taufiq Ismail (?Dengan Puisi, Aku?) menempatkan puisi sebagai sarana bernyanyi dengan kehidupan, bercinta dengan alam, mengenang Sang Khalik, atau mengutuk zaman yang busuk, maka Memed Gunawan ?sekadar? mengungkapkan kegundahan hati. Ia menangis memandang penderitaan petani, marah atas kerusakan areal pesawahan, prihatin dan gelisah pada kegagalan program pemerintah, subsidi yang salah sasaran, konsep hebat yang tak membumi, atau diskusi ilmiah dan mewah yang tak menyentuh nasib rakyat. Segala kegelisahan itu, tiba-tiba seperti memperoleh saluran pada puisi. Maka, potret kegelisahannya dapat kita cermati dalam kedua antologi itu.

*) Maman S. Mahayana, Pengajar FIB-UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *