Jangan Dibaca, Ngakak Saja

Doan Widhiandono*
http://www.jawapos.co.id/

BETUL, jangan baca buku ini! Sebab, isinya memang bukan tulisan, bukan rangkaian huruf dan jalinan kata yang harus dibaca. Materi utama buku karya Iwan Nurdianto alias Iwan Iwe ini adalah gambar kartun yang dinikmati dengan cara dilihat. Jumlahnya 139 buah. Dan, sesuai judul buku, penulis berharap bahwa buku tersebut bisa membuat pembacanya meledak dalam tawa alias ngakak.

Sejatinya, tugas Iwan Iwe dalam buku ini tak mudah: menertawakan (baca: menyebabkan tertawa) orang yang kian pelit dengan tertawa. Iwan Iwe harus menguraikan urat-urat tawa masyarakat sekarang yang begitu kusut sehingga tawa menjadi barang yang langka. Continue reading “Jangan Dibaca, Ngakak Saja”

Bung Sultan, Mengakhiri Mitos Ratu Adil?

R Toto Sugiharto *
kr.co.id

BUNG Sultan yang dimaksud dalam tulisan ini bukan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X), melainkan ayahanda beliau, mendiang Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX. Penyebutan “bung” untuk kalangan aristokrat, seperti juga untuk Sultan HB IX, bukannya tanpa sebab. Panggilan “bung” untuk aristokrat adalah akibat dari revolusi sosial pada 1946 di Surakarta (Kedaulatan Rakjat, 17 Djanuari 1946). Pemanggilan itu sebagai tuntutan kesetaraan dan demokratisasi dari kelompok radikal yang menghendaki pemusnahan feodalisme yang berakar dari kalangan bangsawan yang berpusat di Keraton Surakarta: Kasunanan dan Mangkunegaran. Tuntutan lainnya adalah peleburan sistem pemerintahan istimewa di daerah (khususnya Surakarta) agar bergabung dengan pemerintah Republik Indonesia. Continue reading “Bung Sultan, Mengakhiri Mitos Ratu Adil?”

Spiritualitas ala Warung Kopi

Saiful Amin Ghofur *
jawapos.com

SEBAB untuk membaca peta langit, seseorang harus terlebih dulu menyeka airmata bumi.
Begitulah, seperca sajak Keranda Cahaya yang diteluhkan Ilung S. Enha di ufuk senjakala untuk mengawal karib spiritualnya, Zainal Arifin Thoha, menanggalkan kesementaraan bumi menuju langit keabadian pada 14 Maret 2007 silam.

Selajur Keranda Cahaya itu merupakan jelma pemberontakan Ilung terhadap arus utama spiritualitas. Selama ini ruang-ruang spiritualitas disesaki dengan doktrin purba sufistik yang cenderung elitis-egosentris. Continue reading “Spiritualitas ala Warung Kopi”

Membangkitkan Kembali Ruh Mpu Tantular

T.N Angkasa
oase.kompas.com, 18 Mar 2009

“Indoktrinasi yang dilakukan terhadap anak-anak kita sejak usia dini menciptakan konflik di dalam diri mereka. Doktrin yang mereka peroleh – termasuk cara makan, berpakaian dan lain sebagainya – membuat mereka tertutup” (hal 255)

Mpu Tantular menulis Kakawin Sutasoma untuk mengkritik Gajah Mada. Saat itu fondasi yang dipakai oleh Sang Maha Patih guna menyatukan Nusantara begitu rapuh. Deklarator Sumpah Palapa tersebut menggunakan strategi militer, ekonomi dan agama. Sebagai alternatif, Sang Mpu menawarkan pendekatan budaya untuk mengatasi krisis multidmensi yang mendera Majapahit. Continue reading “Membangkitkan Kembali Ruh Mpu Tantular”

Bahasa ยป