9 Pertanyaan untuk Zara Zettira ZR: Menulis adalah Kebutuhan

Grathia Pitaloka
jurnalnasional.com

SATU dekade menghilang dari dunia kepenulisan di Tanah Air, kini Zara Zettira ZR kembali hadir bagi para pembacanya. Roda waktu yang berputar selama 10 tahun tak mampu menggerus pesona ibu dua anak ini. Zara masih seperti dulu: cantik, langsing, dan penuh kelembutan.

Zara yang sore itu terlihat anggun dibalut kebaya putih bertutur bahwa dirinya tidak absen 100 persen dari dunia kepenulisan. Waktu satu dekade itu ia habiskan untuk membuat karya dalam bentuk skenario. Continue reading “9 Pertanyaan untuk Zara Zettira ZR: Menulis adalah Kebutuhan”

Visi Kebudayaan Capres

Indra Tranggono *
kr.co.id

MESKIPUN sering mengaku menjunjung tinggi kebudayaan, bangsa kita belum menjadikan kebudayaan sebagai basis pembangunan. Pendekatan yang dipakai cenderung parsial: politik dan ekonomi yang kurang mempertimbangkan asas demokrasi, keadilan dan pemerataan.

Politik menjadi primadona pada era kekuasaan Orde Lama Soekarno. Atas nama “revolusi belum selesai” dan character building, Soekarno menggunakan politik sebagai panglima. Continue reading “Visi Kebudayaan Capres”

Memihak, Ciri Sastra Banyumas

Budiono Herusatoto*
http://www.kr.co.id/

SETELAH lama menanti perbincangan yang intens terhadap pemikiran tentang penciptaan karya sastra Banyumas, kini muncul dengan serius diawali oleh Sigit Emwe: Langkah Sastra Banyumas disusul oleh Rusmiyati: Sastra Banyumas dalam Kekosongan Budaya (KR Minggu, 14/6/2009), disambung oleh Yosi M Giri: Misi Kesusasteraan di Banyumas (KR, Minggu 21/6/2009), saya sebagai pengamat kebudayaan Banyumas ikut nimbrung untuk lebih melengkapi rerasanan sastra Banyumas itu. Continue reading “Memihak, Ciri Sastra Banyumas”

Sastra Banyumas dalam Kekosongan Budaya

Rusmiyati
http://www.kr.co.id

SETELAH mencermati tulisan Sigit Emwe ?Langkah Sastra Banyumas?, beberapa waktu lalu di rubrik ini, saya menjadi kembali merenung panjang. Pasalnya, wacana tersebut hanya mengusung tentang iklim kesusastraan dalam dunia akademik. Berdasarkan pengamatan dari sebanyak pelatihan kepenulisan sastra jarang menghasilkan sastrawan yang andal. Bahkan, boleh dibilang tidak ada. Seseorang menjadi sastrawan karena ketelatenan dalam mengasah dan menggali bakatnya. Continue reading “Sastra Banyumas dalam Kekosongan Budaya”

Misi Kesusastraan di Banyumas

Yosi M Giri*
http://www.kr.co.id/

Menarik untuk dicermati pernyataan Rusmiyati ?Sastra Banyumas dalam Kekosongan Budaya? di Kedaulatan Rakyat (Minggu, 14 Juni 2009) menyatakan, sastra Banyumas sudah saatnya mencerahkan dengan menyuarakan dinamika budaya dan kehidupan masyarakat. Pendapat ini pun mendapat dukungan penuh dari A Teeuw yang beribu-ribu kali dikutip dan dipolarisasi sebagai upaya afirmasi lokalitas dalam kesusastraan Banyumas. Continue reading “Misi Kesusastraan di Banyumas”

Bahasa ยป