CERPEN DENGAN AROMA EKSOTISME

Maman S. Mahayana *

Perjalanan cerpen Indonesia mutakhir, terutama selepas pemberlakuan otonomi daerah, tampak makin menunjukkan peta kultur keindonesiaan yang lebih beragam. Keberagaman itu seperti mencelat begitu saja ketika persoalan etnisitas diangkat dan menjadi tema cerita. Kehidupan perkotaan dengan kecenderungan tokoh-tokohnya yang teralienasi atau tak punya identitas kultural yang kerap ditawarkan para penulis yang lahir dan besar di tengah masyarakat perkotaan—metropolis, tidak lagi mendominasi tema cerpen yang bertebaran di berbagai majalah dan suratkabar Minggu. Continue reading “CERPEN DENGAN AROMA EKSOTISME”

Indonesia

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

KADANG-KADANG saya berpikir, apa gerangan yang ada dalam pikiran bapak saya beberapa saat sebelum ia ditembak mati. Kadang-kadang saya ingin membayangkan, ia menyebut nama ?Indonesia? di bibirnya, atau ?Indonesia merdeka?, tapi tentu saja ini satu imajinasi klise, dan sebab itu tiap kali muncul cepat-cepat saya stop. Bukan mustahil bapak ketakutan di depan regu tembak pasukan pendudukan Belanda itu. Atau ia pasrah? Yang agaknya pasti, beberapa puluh menit, atau beberapa puluh detik kemudian, seluruh ketakutan (atau sikap pasrah, atau jangan-jangan kecongkakan yang tampil seperti keberanian) pun punah: peluru-peluru menembus batok kepalanya. Darah muncrat, ia roboh, tak akan pernah pulang lagi. Continue reading “Indonesia”

Tarian Terakhir Seniman Tanah Air

Anwar Siswadi
tempointeraktif.com

Suasana pertunjukan langsung menyambut begitu pintu depan dibuka. Gelap menyergap. Jalan masuk hanya diterangi pendar 11 lilin yang dibariskan memanjang dua lajur di lantai. Di ujungnya, seorang perempuan membungkuk tak bergerak. Badannya condong ke depan sambil kedua tangannya memegang tangkai pacul yang lebih panjang dari ukuran umumnya.

Selangkah dari situ, sosok-sosok lain ikut menghadang. Di dalam kotak kayu, seorang lelaki berkaca mata hitam terbujur beku di pintu masuk tempat pertunjukan. Tubuhnya berselimut tanah. Sebuah tonggak kayu salib terpancang di ujung kaki. Continue reading “Tarian Terakhir Seniman Tanah Air”

Tragedi Gendari tanpa Klimaks

Ibnu Rusydi, Seno Joko Suyono
http://www.tempointeraktif.com/

Ia buta. Rambut putihnya memanjang. Ia membawa tongkat kayu yang tak lurus. Itulah Destarata. Penampilan penari alusan Sulistyo Tirtokusumo sebagai Destarata yang tak bisa melihat itu cukup kuat. Destarata hadir di antara para prajurit Kurawa yang tengah berlatih. Walau singkat, penampilan Sulistyo turut memaknai pementasan Gendari. Continue reading “Tragedi Gendari tanpa Klimaks”

Filosofis Kekuasaan dalam Fiksi Epik yang Eksotik

http://www.lampungpost.com/
Judul Buku : The Road To The Empire
Penulis : Sinta Yudisia
Penerbit : PT Lingkar Pena Kreativa
Cetakan : I/Desember 2008
Tebal : 586 hlm.
Peresensi : Umi Laila Sari

DALAM kata pengantar buku Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern, Maman S. Mahayana mengungkapkan bahwa dalam konteks kehidupan berbangsa, selayaknya jika para novelis atau sastrawan pada umumnya ditempatkan sebagai “pejuang moral”. Continue reading “Filosofis Kekuasaan dalam Fiksi Epik yang Eksotik”

Bahasa »