Patriotisme

Riadi Ngasiran *
jawapos.com

PATRIOTISME hadir ketika identitas dan eksistensi sebuah bangsa mengalami ancaman. Ia tumbuh seiring magma nasionalisme yang membara. Patriotisme pecah ketika gelora revolusi diembuskan. Maka, dibutuhkan ingatan kolektif sekiranya nilai dan semangat nasionalisme itu mulai redup. Lalu, benarkah sebuah karya seni membantu memberikan daya dorong bagi ingatan kolektif sebuah bangsa? Continue reading “Patriotisme”

Menulis untuk Pembaca Tendensius

Akhmad Siddiq*
http://www.jawapos.com/

Tulisan Abdul Waid bertajuk Penulis Berani Mati (Jawa Pos, 9/8/2009) mengingatkan kita bahwa trialektika (dialog tiga arah) antara penulis, teks, dan pembaca tak selamanya berlangsung damai. Kecaman, teror, bahkan ancaman kekerasan fisik bisa mewarnai dialog tiga arah itu.

Sebagai pengalaman pribadi, dalam tulisannya, Waid mengisahkan intimidasi dan teror yang diterima pasca penerbitan buku Sorban yang Terluka. Dalam konteks yang lebih luas, nama-nama seperti Salman Rushdi, Ala Hamid, Nasr Hamid Abu Zaid, Farag Fouda, dan Mahmud Mohammad Toha bisa dijejer sebagai sampel yang menguatkan fenomena trialektika salah arti tersebut. Continue reading “Menulis untuk Pembaca Tendensius”

Monang, Identitas di Antara

Imam Muhtarom *
jawapos.com

Salah satu ciri manusia modern adalah upayanya menciptakan kebahagiaan hidup lewat perjuangan individual. Manusia modern percaya bahwa dari usaha keras dengan mengandalkan kemampuan diri individunya sebuah masa depan yang cerah dibuat.

Akan tetapi menjadi modern dengan mempercayakan kemampuan individunya bekerja masih perlu diuji dalam sosial modern sebagai salah satu jalan bahwa individu tersebut telah menempatkan dirinya secara memadai dalam dunia yang benar-benar berbeda dari sistem sosial yang berusaha ia tinggalkan. Continue reading “Monang, Identitas di Antara”

Bahasa ยป