Bulan Separuh Bayang

Dahlia Rasyad
http://www.lampungpost.com/

SEMENJAK kepergian ayah, ibu selalu menghabiskan malam di kursi goyang sambil memandang pesona bulan dan kesejukan taman. Saat-saat di pertengahan kalender ia sudah duduk di sana sambil membaca novel tua yang romantis. Novel itu, selalu ia ulang-ulangi ke sekian kalinya. Apalagi kalimat-kalimat pembuka di bab-bab yang bukan saja puitis, tetapi mampu sejenak membawanya ke realitas fiksi itu. Bab yang dibuka dengan kalimat seperti ini: Continue reading “Bulan Separuh Bayang”

Surat Kepada Luqman 2

Kavellania Nona Pamela

Aku ingin bertanya pada awal surat keduaku ini padamu. Apa kabarmu hari ini Luqman? Maksudku apa kabarnya setelah kau membaca suratku kemarin? Ternyata kau masih saja membisu dan aku pun juga membisu. Kita sama-sama membisu bukan, Luqman? Padahal kerinduan telah dingin menyelimuti diriku sebesar minus derajat sekian. Dingin sekali Luqman, hingga aku membeku dan tak lagi menemukan mantel hangat pada kerinduan itu. Sampai kapan kau akan membiarkanku membeku seperti ini, menyiksaku dengan sayatan rindu pada lembar kisah yang telah memudar dulu. Continue reading “Surat Kepada Luqman 2”

Sekali lagi, Geger Radya Pustaka

Heri Priyatmoko*
http://www.jawapos.com/

RONGGOWARSITO. Sebuah nama yang menggetarkan dunia kesusastraan Jawa di abad 19. Nama itu selalu dikenang sebagai pujangga besar yang karya-karyanya tetap abadi sepanjang masa. Dari pena pujangga ampuh Keraton Kasunanan tersebut mengalir beragam karya sastra kelas berat yang sarat nilai humaniora. Setumpuk bukunya mengulas falsafah, lakon wayang, sejarah, primbon, ilmu kebatinan, kisah raja, dongeng, syair, adat kesusilaan, dan lainnya. Continue reading “Sekali lagi, Geger Radya Pustaka”

Tentang Cerpen Nirwan

Ribut Wijoto

Rentang sepuluh tahun terakhir, 1998-2007, ada kesalahan pada perkembangan eksplorasi bahasa cerpen. Bahasa diolah-maksimalkan, dicari pilihan kata paling tepat, dan kalimat diberi rima-ritme; kesemua usaha dilakukan tidak untuk memperkuat unsur cerpen. Justru sebaliknya, usaha kuat-keras tersebut, sepenuhnya untuk memperlemah potensi unsur cerpen.

Ini kesalahan fatal. Soalnya, ini kesalahan dilakukan oleh orang-orang yang justru berkompeten di bidang kesusastraan. Lebih fatal lagi, ini kesalahan diikuti oleh beragam kaum sastrawan. Ia menjadi standar nilai cerpen. Sebuah standar nilai yang membalik arah. Continue reading “Tentang Cerpen Nirwan”

Kisah Luka dan Asmara

Judul Novel : Prahara Asmara
Penulis : Zara Zettira ZR.
Penerbit : Akoer, Jakarta
Cetakan : I Februari 2009
Tebal : 235 halaman
Peresensi : MG. Sungatno *
cawanaksara.blogspot.com

The experience is the best teacher.

Demikian kata pepatah yang pernah kita baca dan dengar dari orang-orang bijak. Namun, kalimat ini belum tentu dapat dipakai secara universal. Sebab, tidak sedikit dari kegagalan yang dialami banyak orang justru akibat mengulang-ulang jawaban atau tindakan yang sama untuk menjawab situasi yang berbeda. Continue reading “Kisah Luka dan Asmara”

Bahasa ยป