Kisah Luka dan Asmara

Judul Novel : Prahara Asmara
Penulis : Zara Zettira ZR.
Penerbit : Akoer, Jakarta
Cetakan : I Februari 2009
Tebal : 235 halaman
Peresensi : MG. Sungatno *
cawanaksara.blogspot.com

The experience is the best teacher.

Demikian kata pepatah yang pernah kita baca dan dengar dari orang-orang bijak. Namun, kalimat ini belum tentu dapat dipakai secara universal. Sebab, tidak sedikit dari kegagalan yang dialami banyak orang justru akibat mengulang-ulang jawaban atau tindakan yang sama untuk menjawab situasi yang berbeda.

Dari sinilah kalimat “pengalaman adalah guru yang terbaik”, perlu ditafsiri lebih dalam. Apakah semua pengalaman masa lalu dapat dikatakan sebagai guru yang terbaik secara keseluruhan? Atau hanya beberapa subtansi tertentu dari pengalaman itu? Dalam konteks inilah Coach Tom MC Ifle dalam buku Profit is King, pernah menulis bahwa pengalaman dapat menjadi musuh terbesar atas kesuksesan seseorang. Tentunya, ketika seseorang tidak mampu memilah-milah pengalaman. Yakni, antara pengalaman yang patut dijadikan guru dan pengalaman yang pantas dijadikan rambu-rambu.

Dalam novel Prahara Asmara ini, Zara Zettira ?penulis novel ini- menceritakan bahwa pengalaman seseorang mampu mempengaruhi cara pandang pemiliknya dalam menyikapi situasi dan kondisi yang berbeda. Sehingga, jika pengalaman atau masa lalu orang itu baik, maka persepsinya pun akan baik. Begitu juga sebaliknya. Jika masa lalunya buruk, persepsi mereka dalam menjawab atau menyikapi keadaan yang ditemui mereka pun belum tentu baik.

Untuk itu, perlu adanya refleksi dan memilah-milah masa lalu itu. Jika pengalaman itu buruk, tidak semestinya dilanjutkan. Melainkan diambil hikmahnya dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari terjadinya pengulangan pengalaman itu. Jika masa lalu itu baik, tentu perlu dilanjutkan dan dikembangkan hingga lebih baik lagi.

Meski demikian, penulis kelahiran Jakarta yang kini bermukim di Kanada ini dengan lincah mengaduk-aduk emosi pembaca. Melalui sejumlah tokoh cerita yang diangkatnya, Zara membeberkan sisi lain kehidupan sejumlah orang asal Indonesia yang bermukim di kota Toronto, Kanada. Di antara mereka adalah orang-orang yang pernah menapaki masa-masa suram. Sayangnya, mereka tidak mampu menghindari dan terbebas dari terulangnya kejadian suram itu. Meski mereka sadar bahwa kebiasan itu buruk bagi diri dan masa depan mereka, tampaknya perlu adanya bantuan orang lain untuk membebaskan mereka. Terlebih, kisah dalam buku ini menurut Zara adalah percikan kisah nyata yang terjadi di sana.

Kota Toronto merupakan setting tempat dalam kisah yang menyedihkan ini. Inneke, merupakan tokoh utama yang mengarungi kehidupan dengan sederet masa lalu yang suram. Sejak kecil ia hidup bersama orang tua angkat yang miskin. Pendapatan sehari-harinya di dapat dari kerja menjadi buruh cuci di sebuah kampung pinggiran Jakarta. Selain itu, orang tua tunggal Inneke itu membuat usaha kecil-kecillan dengan memproduksi kue yang didistribusikan ke warung-warung makanan. Sementara, orang tua kandung Inneke sendiri tidak sampai Inneke besar tidak diketahui keberadaannya.

Belum sampai menamatkan Sekolah Dasar (SD), Inneke dicintai oleh Rudi, putera seorang Ustad terpandang dan tergolong orang kaya di kampung. Mengetahui hal itu, orang tua Rudi segera melamar Inneke untuk putera tersayang mereka. Setelah menikah, Rudi dan Inneke di kontrakkan rumah mewah di daeah pegunungan. Awalnya, pasangan suami-istri muda hidup sangat bahagia dengan berlimpah harta benda yang kecukupan. Namun, ketika dikarunia anak, rumah tangga mereka berantakan lantaran Rudi bosan. Sementara, anak yang dihasilkan keduanya dibawa kabur oleh Andi dan orang tuanya. Mereka pun pindah rumah.

Ironisnya, ketika keadaan telah menyudutkan Inneke, rumah kontrakan telah habis masanya. Inneke mencari-cari Andi dan keluarganya di kampung sudah tidak ditemukan lagi. Begitu juga dengan orang tua angkat Inneke. Ia tidak ada di rumah semula. Bahkan, rumah itu pun telah dimiliki orang lain.

Akhirnya Inneke memutuskan diri menjadi pembantu rumah tangga. Meski sering dihantui perasaan kehilangan orang-orang yang dicintainya, Inneke tetap bertahan. Dengan gaji yang diterima dari majikan, Inneke mampu mengumpulkan banyak uang. Sayangnya, belum sempat memanfaatkan gajinya, majikan Inneke cerai. Lantas, Inneke memutuskan diri untuk ikut majikan perempuannya yang pindah ke Kanada dan menikah dengan lelaki simpanan semenjak di Jakarta. Sayangnya, lagi-lagi Inneke menemui nasib suram. Ketika majikan perempuannya keluar rumah, Inneke hendak diperkosa oleh majikan laki-laki. Dengan nafas terengah-engah, Inneke kabur dari rumah.

Dalam pelarian tanpa tujuan itu, Inneke bertemu dengan orang jalanan yang sedang mabuk alkohol. Inneke dicekal dan hendak diperkosa. Namun, hal itu gagal akibat ada pasangan gay yang menolong Inneke. Keduanya membawa Inneke untuk hidup dan bekerja di perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa menemani dan melayani para bisnisman di Toronto.

Di sinilah awal dari keberlimpahan harta yang dimiliki Inneke. Ia dicintai oleh bisnisman asal Jepang, Nayato Takeshi. Inneke menjadi wanita selingkuhan bisnisman yang telah memiliki anak dan istri di Jepang itu. Meski mengetahui hal itu Inneke tetap melanjutkan hubungan dengan Nayato. Sehingga, Inneke tidak susah payah lagi memikirkan kebutuhan materinya. Kebutuhan itu telah dicukupi oleh Nayato. Tentunya, Inneke menggantinya dengan rela ditiduri dan diajak kemana-mana oleh Nayato selama di Toronto.

Meski demikian, status Inneke sebagai gundik Nayato itu mulai berantakan ketika Adam, pacar Risma (teman akrab Inneke), menghadiri pesta yang terselenggara di rumah Inneke. Inneke diam-diam menaruh hati pada laki-laki yang sempat hidup di Indonesia bertahun-tahun itu. Tanpa sepengetahuan Risma, keduanya melakukan hubungan layaknya suami-istri pada malam itu. Sementara, Risma pulang dari rumah Inneke mengalami kecelakan di jalan raya.

Meski terasa datar, cerita dalam novel ini hadir dalam kisah yang baru. Dari kisah yang dibesut Zara dari kisah nyata ini, tampak mebuat warna baru ditengah merebaknya novel populer yang selama ini berbau tema percintaan. Perbedaan itu terletak pada kesadaran para tokoh ketika berbuat hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan. Namun, mereka tidak kuasa untuk meninggalkan hal itu. Terlebih di tengah hukum dan budaya masayarakat Kanada yang berbeda dengan Indonesia. Selain itu, kehidupan yang menyedihkan yang dialami Inneke dan tokoh lainnya juga terbentuk terbentuk sejak berada di Indonesia.

Dari Indonesia itulah para tokoh cerita yang berda di Toronto ini meneruskan masa-masa suram. Mereka selalu merasa kecewa dengan masa-masa yang telah mereka lalui. Sayangnya, mereka tidak mampu menjadikan masa lalu itu sebagai guru untuk menyikapi kehidupan berikutnya.

*) Bergiat di Sciptorium Lintang Sastra Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *