Perayaan Pluralisme Cerpen Indonesia Kontemporer: Keberagaman Alternatif

Satmoko Budi Santoso
Kompas

CERPEN Indonesia telah meruntuhkan “sakralitasnya”, anjlok dari menara gading yang dibangunnya beberapa warsa silam: cerpen hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang berada di seputaran kerja kreatif kesusastraan itu sendiri.

Tentu, asumsi ini sangat bisa dibuktikan, karena dalam era kekinian, cerpen Indonesia telah merasionalisasi dirinya sendiri, masuk ke segala segmen, semua kelas sosial. Beragam tema dengan keberjamakan eksplorasi teknik penceritaan dan pencapaian bahasa-bahasa yang metaforis, telah diterima publik, tak hanya lingkungan kaum sastrais, namun juga pasar ABG dan komunitas selebriti. Continue reading “Perayaan Pluralisme Cerpen Indonesia Kontemporer: Keberagaman Alternatif”

Positioning Pasar Seni Lukis Indonesia

Djuli Djatiprambudi *
jawapos.com

Setiap karya seni punya pasar sendiri. Seperti yang terjadi di Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) di kompleks Balai Pemuda Surabaya, 1 – 11 Mei 2009. Ratusan pelukis dari berbagai kota menggelar karyanya di dalam 160 tempat yang disediakan panitia. Di hari kedua sudah disiarkan sekitar 200 karya terjual. Ratusan orang memadati arena pasar untuk menyaksikan ratusan lukisan dengan berbagai macam corak. Dari lukisan beraroma ”Mooi Indie” hingga yang disebut seni lukis ”kontemporer”. Ini artinya, setuju atau tidak, PSLI telah memperlihatkan konfigurasi infrastrukstur seni yang memiliki segmentasi pasar sendiri. Continue reading “Positioning Pasar Seni Lukis Indonesia”

Memerkarakan Kelezatan Cerpen

Bandung Mawardi *
jawapos.com

Cerpen masih jadi menu lezat untuk pembaca? Kriteria lezat tentu mengandung pengertian resepsi dan interpretasi. Cerpen jadi pertaruhan untuk memanjakan atau melenakan selera dalam tegangan cerpenis, redaktur, dan pembaca. Cerpen-cerpen pun tak jemu jadi menu di lembaran-lembaran kebudayaan koran dengan wajah dan sapa menggoda. Suguhan cerpen-cerpen itu menjadi tanda koma yang mengabarkan bahwa negeri ini memiliki daftar panjang homo fabulans (manusia pencerita). Homo fabulans itu mengajukan cerpen sebagai menu ampuh untuk mengabarkan lakon manusia. Continue reading “Memerkarakan Kelezatan Cerpen”

Cerita dari Negeri Oranye

Rosdiansyah*
http://www.jawapos.com/

Menjejakkan kaki pertama kali di bandara internasional Schipol, Amsterdam, sama sekali tidak mengusir rasa kantuk setelah nyaris 14 jam duduk di pesawat jurusan Jakarta – Kuala Lumpur – Amsterdam. Namun rasa kantuk itu mendadak hilang saat tahu rekan-rekan para pengurus PPI Belanda telah menjemput dan begitu ramah membantu membawa koper serta mulai bercerita seputar kehidupan di Belanda. Continue reading “Cerita dari Negeri Oranye”

Belajar ke Madurodam

D. Zawawi Imron
jawapos.com

Siapa yang tidak kenal Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta? Di TMII hampir semua bentuk rumah tradisional dari seluruh provinsi di Nusantara ada, dalam ukuran yang sama dengan aslinya. Rumah tongkonan Toraja yang ada di anjungan Sulawesi Selatan sama besarnya dengan tongkonan yang ada di Ketek Kesu, Tana Toraja.

TMII berbeda dengan taman mini di Belanda yang terkenal dengan nama ”Madurodam”. Di sana bangunan-bangunannya sengaja dibuat kecil, dengan skala 1 : 25. Jadi, replika gedung-gedung bersejarah negeri Belanda yang ada di kompleks taman itu tingginya hanya sekitar satu meter. Continue reading “Belajar ke Madurodam”

Bahasa ยป