Untukmu, Ras

Dian Purnama

Beranda

‘BIARKAN dia terus bersamaku,’ aku mengiba padamu. Tapi kau tetap diam. Kau terlalu angkuh untuk menjawab apa yang kuungkapkan. ‘Dengarkan aku, Ras! Dengar! Mengapa kau diam? Jangan pura-pura bodoh di depanku!’ demikian juga hardikku di tengah gelapnya malam.

Dan kau masih saja diam, Ras. Perempuan macam apa kau sebenarnya? Setankah kau ini, Ras? Tidakkah kau punya telinga untuk mendengar setiap ucap kata dan sumpah serapah yang kuhujam padamu? Atau jangan-jangan kau tak punya mulut? Kau hanya duduk bergelung di pojok ruangan sementara aku menghardikmu dengan segenap tenaga yang masih tersisa setelah perdebatan kecil kita tadi. Continue reading “Untukmu, Ras”

Aku, Asfin, Valent, dan Resta

Mariana Amiruddin
jawapos.com

”Sepertinya ada yang salah di mataku, sesuatu yang terselip…,” kata Asfin sambil berjalan di mall besar Jakarta dan menenteng beberapa pakaian. Bulu matanya tiba-tiba menjadi lentik melengkung ke atas. Aku meledeknya, ”Seperti artis Bollywood.” Lalu Asfin meronta-ronta karena ia paling tidak suka dibilang seperti orang India. Sementara Valent sibuk mengusap wajahnya yang berminyak dengan kertas penyerap minyak. Dan Resta dengan rambut pendeknya yang baru, diam saja sambil berjalan dengan kalung besar berbahan kayu melingkar di lehernya. Continue reading “Aku, Asfin, Valent, dan Resta”

Kekuatan Sastra Indonesia di Facebook

(Wawancara dengan Hudan Hidayat)

Arif Gumantia (Pewawancara)

Dengan adanya Facebook ini maka setiap orang bisa menghasilkan karya sastra yang dipublikasikan di Facebook. Baik itu Puisi, Cerpen, ataupun Esai. Oleh karena itu sangat menarik untuk menganalisa apa yang di sebut dengan Sastra Indonesia di Facebook. Dan berikut ini adalah wawancara saya dengan Hudan Hidayat, seorang sastrawan besar milik negeri ini yang sangat aktif mengembangkan sastra Facebook khususnya dan sastra cyber pada umumnya. Continue reading “Kekuatan Sastra Indonesia di Facebook”

MENJADI SASTRAWAN BUKAN KARENA BAKAT

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Menjelang berakhir abad ke-20 dan mengawali masuk milenium ketiga, peta kesusastraan Indonesia seolah-olah dikejutkan dengan bermunculannya sastrawan wanita. Sebut saja Ayu Utami, Dewi Lestari, Oka Rusmini, Dorothea Rosa Herliany, Helvy Tiana Rosa, Abidah El Khalieqy, Fira Basuki, dan sebelumnya Ratna Indraswari Ibrahim. Jauh sebelum itu, NH Dini menjulang sendiri dan disusul kemudian Titis Basino PI. Yang disebut terakhir inilah, seakan-akan hendak menggebrak sendiri lewat produktivitasnya yang luar biasa. Bayangkan, dalam kurun waktu dua tahun saja (1998?1999), Titis telah menghasilkan lebih dari 17 novel. Jadi di antara sastrawan wanita Indonesia, dapat dipastikan, jumlah novel yang dihasilkannya Titis berada di atas sastrawan wanita lainnya. Continue reading “MENJADI SASTRAWAN BUKAN KARENA BAKAT”

Harry Aveling dan Sastra Indonesia

Susi Ivvaty
kompas-cetak.com

Harry George Aveling (64) masih berusia delapan tahun ketika bibinya menunjukkan peta Borneo (Kalimantan) kepadanya. Bibi berharap ia menjadi pendakwah agama di pulau itu. “Saya akhirnya malah menjadi pendakwah budaya Indonesia untuk orang Australia, he-he-he.”

Di Indonesia, Harry dikenal sebagai pemerhati dan peneliti kesusastraan Indonesia sejak tahun 1970-an. Belakangan, lelaki kelahiran Sydney, Australia, 30 Maret 1942, Continue reading “Harry Aveling dan Sastra Indonesia”

Bahasa ยป