Bisikan Sastra Perang?

Binhad Nurrohmat
kompas-cetak.com

Watak kesusastraan peka pada tragedi, dan di antara tragedi terbesar bagi umat manusia adalah perang. Perang merupakan tragedi yang tak sebatas membinasakan tubuh dan melenyapkan peradaban manusia. Ketika krisis dan kegundahan di Eropa merebak pada 1935 dan dihantui luka Perang Dunia I, Jean Girauduoux menyelipkan sebaris kalimat jitu tentang bahaya perang yang paling mengerikan ke dalam dramanya, La guerre de Troi n?aura pas lieu (Perang Troya Tak Bakal Meletus): “Kebenaran adalah korban pertama dalam perang.” Continue reading “Bisikan Sastra Perang?”

Malam Saweran

AS Laksana
suaramerdeka.com

AKU sepakat bahwa laporan bersambung itu terasa mengada-ada. Setidak-tidaknya, ia terasa sebagai upaya berlebihan dari penulisnya untuk membuatmu putus asa mengikuti sepak terkam orang-orang yang gemar menyelinap di tengah malam. Wartawan itu memang menulis dalam gaya yang samar; ia menceritakan tabiat sejumlah orang tanpa menyodorkan petunjuk yang memungkinkanmu menerka siapa saja sesungguhnya yang sedang ia ceritakan dan di mana kejadiannya berlangsung. Continue reading “Malam Saweran”

Nasionalisme ala Sukarno

Benni Setiawan*
http://www.surabayapost.co.id/

Iki dadaku, endi dadamu
Rawe-rawe rantas, malang-malang putung

Kata-kata tersebut di atas adalah teriakan lantang Presiden RI pertama Sukarno atau yang sering disapa dengan Bung Karno. Teriakan penuh keberanian ini mengiringi barisan siap tempur dalam misi ?Ganyang Malaysia? pada tahun 1963. Semboyan ?Ganyang Malaysia? dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman Putra (8 Februari 1903-6 Desember 1990) yang mendeklarasikan Kerajaan Federasi Malaysia. Continue reading “Nasionalisme ala Sukarno”

Thersites

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Demokrasi dimulai dengan seorang buruk muka yang dipukul punggungnya. Namanya Thersites, tokoh yang tak banyak dikenal dalam puisi Iliad karya Homeros dari sekitar abad ke-9 Sebelum Masehi.

Dalam kisah para raja dan pangeran yang membawa ribuan prajurit untuk berperang mengalahkan Kota Troya ini Thersites dilukiskan sebagai ?lelaki paling jelek? dalam pasukan. Kakinya lemah sebelah, pundaknya melengkung, rambutnya tinggal beberapa helai di ubun-ubun. Tapi yang menyebabkan ia dicatat dalam Iliad adalah ?lidahnya yang tak terkendali?. Ia mengecam mereka yang berkuasa. Continue reading “Thersites”

Djenar dan Paradoks Masyarakat Kita

Asep Sambodja
sinarharapan.co.id

Belum genap setahun, buku kumpulan cerpen Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) “selanjutnya disingkat JMMK” karya Djenar Maesa Ayu sudah mengalami cetak ulang keempat sejak diterbitkan pertama kali pada Januari 2004. Ini termasuk sesuatu yang luar biasa dalam penerbitan buku karena bisa mengalahkan buku pelajaran dalam hal cetak ulang. Di sampul halaman depan buku ini tercantum sebuah catatan singkat, “untuk pembaca dewasa”. Continue reading “Djenar dan Paradoks Masyarakat Kita”

Bahasa ยป