FSJ, Bukan Festival Kangen-kangenan

Bonari Nabonenar*
http://www.jawapos.com/

Suatu hari dalam sebuah surlek (surat elektronik) cerpenis Beni Setia menulis: ”Kenapa tak ada orang Jawa yang merasa terpanggil untuk nguri-nguri bahasa dan sastra Jawa dengan memberi dana dan kepercayaan yang sama pada PS (Majalah Bahasa Jawa Panjebar Semangat) atau JB (Jaya Baya), misalnya? Apa komunitas Jawa yang mayoritas penduduk Indonesia itu tak menghasilkan manusia berbudaya yang tertarik untuk mendinamisasi sastra Jawa dengan hadiah tahunan? Kenapa Bengkel Muda Surabaya bisa masuk jadi pos anggaran APBD Surabaya, mengalahkan DKS (Dewan Kesenian Surabaya) yang formal top-down building, tapi PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya) tidak –padahal institusi ini strategik memberi hadiah tahunan yang mendinamisasi kreativitas sastrawan muda Jawa?” Continue reading “FSJ, Bukan Festival Kangen-kangenan”

Sebuah Upaya Memeluk Dunia

Mohammad Eri Irawan*
http://www.jawapos.com/

Pada awalnya, jurnalisme adalah sebuah upaya memeluk dunia. Ia kadang berangkat dari hal kecil, namun kemudian berhasil mendekap sesuatu yang besar. Ia kerap bermula dari sosok-sosok yang terlipat di pusaran waktu mantra manusia modern, namun kemudian gemilang menjadi pencerita yang lengkap tentang cela manusia modern itu sendiri.

Linda Christanty, jurnalis dan penulis sastra peraih Khatulistiwa Literary Award 2004, menunaikan tugasnya dengan sangat baik di buku Dari Jawa Menuju Atjeh: Kumpulan Tulisan tentang Politik, Islam, dan Gay ini. Continue reading “Sebuah Upaya Memeluk Dunia”

Adakah Hubungan Sastra dan Korupsi?

Ngatini Rasdi*
http://www.sinarharapan.co.id/

MARAKNYA kasus korupsi (juga dekadensi moral lainnya) di Indonesia, agaknya bisa dikaitkan dengan rendahnya apresiasi sastra (juga karya seni lainnya) di negeri ini. Jika benar ada hubungan antara sastra dengan korupsi, masalah apresiasi sastralah yang layak dianggap sebagai penghubungnya.

Marilah kira mencoba membandingkan tingkat apresiasi sastra di negara ini dengan di negara-negara lain. Misalnya saja, betapa siswa sekolah menengah di Malaysia, Filipina dan Thailand telah akrab dengan novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer dan karya sastrawan-sastrawan besar dunia lainnya, sedangkan rekan-rekannya di Indonesia hanya sedikit yang mengenal sosok Pramoedya Ananta Toer. Continue reading “Adakah Hubungan Sastra dan Korupsi?”

Sastra yang Tidur dalam Kulkas

Saut Situmorang *

“Aku tidur di depan sebuah kulkas. Suaranya berdengung seperti kaus kakiku di siang hari yang terik. Di dalam kulkas itu ada sebuah negara yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing. Sejak ia berdusta, aku tak pernah memikirkannya lagi.” Demikianlah bunyi empat baris pertama prose-poem Afrizal Malna yang berjudul “Persahabatan Dengan Seekor Anjing” dari bukunya Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (Bentang, 2002). Continue reading “Sastra yang Tidur dalam Kulkas”

Bahasa »