Demokrasi, Sebuah Perdebatan Panjang

Moh. Shofan*
http://www.jawapos.com/

Dalam praktiknya, demokrasi lebih sering berhenti dalam ”pelembagaan formal” dan belum hadir dalam realitas nyata. Dengan kata lain demokrasi hanya tumbuh dan berkembang dalam tataran ideal (das sollen) belum mewujud dalam tataran realitas. Melihat betapa korupnya para anggota DPR, tak jelasnya lagi alasan hidup partai-partai, kecuali untuk mendapatkan kursi, membuat Goenawan Mohamad (GM) sempat berpikir bahwa demokrasi mengandung disilusi dalam dirinya. Pernyataan Albert Camus, yang amat terkenal, ”All that was is no more, all that will be is not yet, and all that is not sufficient”, kiranya sangat relevan untuk menggambarkan kondisi bangsa saat ini. Continue reading “Demokrasi, Sebuah Perdebatan Panjang”

Ketika Barat Menginspirasi Timur

Hujuala Rika Ayu*
http://www.jawapos.com/

SEBAGAI seorang anak perempuan yang terlahir dengan latar belakang bangsawan, Kwei-lan merasa telah mempelajari semua hal yang harus dilakukan seorang istri untuk memenangkan hati suaminya. Tidak hanya masak dan berdandan saja, tapi ia juga telah memenuhi standar kecantikan di mana seorang gadis semenjak kecil harus mengikat kakinya sehingga kaki-kakinya menjadi pendek dan mungil. Namun, kaki-kaki mungil, pintar memasak dan berdandan tidak cukup untuk memenangkan hati suaminya yang telah mengarungi empat lautan itu. Continue reading “Ketika Barat Menginspirasi Timur”

Mimpi Kemakmuran Indonesia

Judul: The Indonesian Dream
Penulis: Sulastomo
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Cetakan: Pertama, 2008
Tebal: x + 174 halaman
Peresensi: Satmoko Budi Santoso
kr.co.id

MENJELANG pemilihan presiden mendatang, bursa perbukuan di Indonesia diramaikan oleh maraknya calon presiden (capres) yang muncul. Banyak buku yang mengupas tuntas perihal berbagai aspek yang bersangkut-paut dengan masalah visi dan misi capres. Continue reading “Mimpi Kemakmuran Indonesia”

Membumikan Teater

Suyatmin Widodo
http://www.kr.co.id/

ADA KISAH berharga dari Ali Sadikin, mantan gubernur DKI Jakarta, mengenai teater yang perlu kita renungkan. Sehubungan dengan tugas-tugasnya di Angkatan Laut (sebagaimana ditulis pada Horison edisi Nopember 1993) berkesempatan tugas ke beberapa kota besar luar negeri, antara lain: Paris, Berlin, London, Wina, Tokyo, Washington, dan New York. Setiap melakukan lawatan ke kota-kota itu, ia selalu dibawa pejabat, duta besar atau stafnya berkeliling kota. Biasanya, yang mereka perlihatkan pertama-tama adalah Istana Negara, dengan halaman yang tertata rapi, bersih, dan indah. Di samping itu, ia juga dibawa ke Gedung Parlemen, Mahkamah Agung, dan teater. Continue reading “Membumikan Teater”

KULTUR DAN IDENTITAS

Sastra Nir-ideologi: “Menjadi Tak Ada”
Gus TF Sakai
http://kompas-cetak/

Ketika individu menjelma jadi kelompok, ada unsur, sifat, atau kepentingan sama tertentu yang mengikatnya. Dan, identitas dalam bentuk kelompok (etnik, kultur, nation) selalu berada dalam sistem kompleks yang tak bisa dikenali melalui individu.

Fisika boleh menemukan partikel terkecil sub-atomik misalnya, tetapi ketika sejumlah atom berada dan terikat dalam gugus atom (molekul, senyawa), “wujud” yang muncul selalu beda. Dalam kajian sosial, sistem kompleks kumpulan individu ini diidentifikasi melalui ideologi. Tetapi, tepatkah identifikasi seperti itu? Continue reading “KULTUR DAN IDENTITAS”

Bahasa ยป