Pamuk, Barat, dan Istanbul

Tia Setiadi*
http://www.jawapos.com/

Dalam berhadap-hadapan dengan Barat, intelektual dan sastrawan dunia ketiga senantiasa berada dalam posisi taksa. Dari satu sisi Barat menjelma sebagai gudang khazanah pengetahuan yang melimpah, dengan tradisi intelegensi dan literasi yang kaya dan mengagumkan, yang mesti diserap, ditelisik, dan dipelajari. Di sisi lain, Barat juga yang telah mengkoloni dan menjarah bangsa-bangsa dunia ketiga, menjadikannya objek untuk diteliti dan dikuasai, memberadabkannya dengan cara melucuti kemanusiaannya. Dua wajah Barat yang hadir serempak ibarat wajah dewa Janus itulah yang menyebabkan intelektual dan sastrawan dunia ketiga berada dalam kegoyahan hubungan antara cinta dan benci, antara kagum dan kecewa pada Barat.

Ketaksaan itu, sikap ambigu itu, seringkali menyuruk menjadi semacam perasaan inferior dan terpinggir di hadapan Barat, pusat yang gemerlap, mencorong, dan selalu memandang itu. Orhan Pamuk, sastrawan Turki pemenang Nobel 2006, mengisahkan dengan plastis perasaan marginal itu, yang merundungnya di masa-masa awal dia menulis, dalam kuliah nobelnya yang bertajuk My Father’s Suitcase:

”Berkenaan dengan tempat saya di dunia –dalam kehidupan, sebagaimana juga dalam sastra, perasaan saya yang paling mendalam adalah bahwa saya ”tidak berada di pusat”. Di pusat dunia, ada kehidupan yang jauh lebih kaya dan menyenangkan ketimbang kehidupan milik kami sendiri, dan dengan segala yang ada di Istanbul, segala yang ada di Turki, saya berada di luar semua itu…Dengan pandangan yang sama pula, ada sebuah jagad sastra, dan pusatnya, juga amat jauh dari saya. Sebenarnya yang ada di kepala saya adalah Barat, bukan dunia, sastra, dan kami orang-orang Turki berada di luar semua itu.”

Namun Pamuk tak terus-menerus bertungkus lumus dalam perasaan marginalnya terhadap Barat. Dengan disiplin baja dan cinta yang keras kepala Pamuk mencipta dunia-dunia baru yang ajaib sekaligus unik, memesona sekaligus menegangkan. Selama sepuluh jam saban harinya Pamuk mengunci diri di dalam kamar, berkhalwat bersama buku-buku warisan ayahnya yang berjumlah sekitar 1.500 buah, menelaah dan membaca, merenung dan menelisik, bermusyawarah atau berselisih dengan kata-kata dan ide-ide orang lain, kemudian mengisi lembaran-lembaran kosong di hadapannya dengan kata-kata dan gagasan-gagasannya sendiri yang menyihir. Tak mengherankan, dalam bentang waktu 30-an tahun meditasinya di kamar itu, lahirlah karya-karya yang, bukan hanya mendeskripsi dan menirukan dunia, melainkan menjadi saingan dan kembarannya.

My Name is Red, The White Castle, The New Life, Snow, adalah dunia-dunia ciptaan Pamuk yang memurubkan tema-tema pergulatan Islam dan Barat, politik dan seni, romantika dan thriller, dengan pusaran kata-kata yang berlapis-lapis dan berwarna-warni bagaikan lukisan Melling, dengan ditopang oleh tiang-tiang sejarah dan filosofi yang kukuh dan meyakinkan, dan penarasian yang lincah dan liar, fantastis, dan tak jarang mengejutkan.

Ada sebenarnya karya Pamuk yang bukan novel, namun kualitasnya tak kalah berkilau dibanding karya-karya novelnya. Karya itu berbentuk memoar, dengan tajuk Istanbul. Dalam memoar ini, yang diterakan dengan kalimat-kalimat prosa yang tenang dan meditatif, dengan nuansa kemurungan yang berpancaran di sana-sini seperti panorama ombak-ombak selat Boshporus, Pamuk berkisah ikhwal masa kecil dan masa remajanya, ikhwal keluarganya, ikhwal cinta pertamanya, dan lebih dari semua itu, ikhwal pertautan kimiawinya dengan kota yang teramat dicintainya, yakni Istanbul. Pamuk mempertentangkan dirinya dengan para penulis dunia seperti Joseph Conrad, Vladimir Nabokov, V.S Naipul yang dikenal telah berhasil melakukan migrasi antarbahasa, budaya, negara, benua, bahkan peradaban. Imajinasi mereka mendapat makanan dari pengasingan, zat gizi yang diperoleh bukan melalui akar melainkan dari ketiadaan akar, akan tetapi, tulis Pamuk, ”Imajinasi saya menuntut saya untuk tetap tinggal di kota yang sama, di jalan yang sama, di rumah yang sama, menatap pemandangan yang sama. Takdir Istanbul adalah takdir saya: saya terikat pada kota ini sebab ia telah menjadikan saya seperti diri saya sekarang ini.”

Keintiman Pamuk dengan Istanbul menyebabkannya mampu, bukan sekadar menyusun sejarah Istanbul secara kronologis, atau menampilkan kronik-kronik peristiwa yang ganjil dan tak galib secara kaledioskopik, melainkan dengan piawai mengupas lapisan-lapisan jiwa Istanbul. Adapun jiwa Istanbul, menurut Pamuk, termaktub dalam sepatah kata, yakni Huzun. Huzun, bisa diartikan sebagai kemurungan atau melankolia. Namun Istambul tidak menanggungkan Huzun atau melankolianya itu sebagai suatu penyakit tak terobati yang telah menyebar ke seluruh kota, atau sebagai suatu kemiskinan abadi yang harus ditanggung seperti duka cita, atau bahkan sebagai suatu kegagalan membingungkan yang harus dilihat dalam warna hitam putih. Tidak, Istanbul, ujar Pamuk, ”menyandang Huzun dengan penuh kehormatan.”

Dalam memoar itu Pamuk juga banyak mengisahkan para penulis, penyair, dan pelukis yang pernah hidup di Istanbul dan yang menjadikan Istanbul sebagai ladang pergulatan dan cahaya inspirasi dalam karyanya, baik yang berasal dari Turki seperti Ahmed Rasim, Recat Ekrim Kocu, Hadulem Gnaralid, maupun yang berasal dari Barat seperti Flaubert, Melling, Nerval, dan Gautier. Yang menarik dari kisah Pamuk tentang mereka adalah bahwa ternyata Huzun tak hanya merembes dalam tulisan, puisi atau kanvas mereka, tetapi juga memendar dan menyelundup ke dalam lorong biografis hidupnya, ke dalam palung jiwanya. (*)

*) Esais dan penyair, tinggal di Jogjakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *