Karena Fiksi bukan Kutbah Jumat

Efri Ritonga, Oktamandjaya Wiguna, Angela
ruangbaca.com

Fiksi bernapas Islam tumbuh tanpa peningkatan kualitas
Beberapa tahun silam, Aisyah Putri adalah bunga di musim semi. Hampir tidak ada pembaca buku remaja Islam yang tidak mengenalnya. Pintar, ramah, dan baik hati, teladan yang ia berikan meresap di hati pelajar sekolah menengah, yang menjadi pembaca utamanya.

Bak gulungan ombak, seri karya Asma Nadia ini meraup sukses di pasar fiksi Tanah Air. Keberhasilan Aisyah Putri, yang mencuri perhatian remaja hampir tujuh tahun silam, itu antara lain karena penokohan yang sangat lokal dan mengena di hati remaja Indonesia. Continue reading “Karena Fiksi bukan Kutbah Jumat”

Menyoal Blurp

Afri Meldam
padangekspres.co.id

Blurb atau kutipan pendapat pembaca (pakar) terhadap suatu terhadap suatu buku yang ditampilkan di sampul depan ataupun belakang, yang menonjolkan nilai pujian. Blurb memang bias. Pemasangan kata-kata pujian tersebut tak lain adalah strategi penerbit untuk mendongkrak angka penjualan sebuah buku. Mengapa perlu menyoal blurb?

Ada beberapa alasan mengapa blurb pada sampul buku (sastra) perlu dipersoalkan. Pertama, dalam kritik reader respons, tanggapan pembaca dianggap sebagai salah satu kepingan puzzle yang membuat buku utuh. Tanpa tanggapan dari pembaca, sebuah karya dinilai tidak lengkap. Continue reading “Menyoal Blurp”

Puisi dari dan untuk Ruang Sunyi

Budi P. Hatees *
lampungpost.com

KETIKA membaca buku Kumpulan Puisi Ruang Lengang yang ditulis Epri Tsaqib, ingatan kita segera tertumbuk pada sastra islami yang diusung para penggiat Forum Lingkar Pena (FLP) dalam karya-karya mereka. Epri Tsaqib bergiat dalam wadah ini, tetapi ia memilih jalan puisi sebagai alat ekspresi seni, berbeda dengan pilihan sebagian besar penggiat FLP yang condong mengutamakan prosa.

Apa pun pilihan ekspresi seni para penggiat FLP, semuanya memiliki kelemahan juga kekuatan. Tentang kelemahan dan kekuatan setiap pilihan ekspresi seni itu akan saya singgung dalam tulisan ini, sehingga dapat menjadi pembanding bagi para penggiat FLP dalam menekuni dunia kepenulisan sastra di negeri ini. Continue reading “Puisi dari dan untuk Ruang Sunyi”

Prof Dr Abdul Hadi WM: Indonesia tak Punya Rumah Kebudayaan Sendiri

Abdul Hadi W. M.
Syahruddin El-Fikri (Pewawancara)
republika.co.id

Sistem pendidikan modern telah mengajarkan paham materialistik sehingga menafikan nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah bahasa.

Agama Islam banyak memengaruhi kebudayaan bangsa Indonesia, khususnya bidang sastra. Munculnya sastra Melayu juga dipengaruhi oleh sastra Islam. Tak heran bila kemudian bangsa ini melahirkan banyak tokoh sastra yang andal. Sayangnya, kini kesusastraan Melayu yang menjadi ciri khas bangsa ini mulai kehilangan arah. ”Indonesia sudah tak memiliki rumah secara kultural lagi,” kata Prof Dr Abdul Hadi WM, guru besar Universitas Paramadina Mulya (UPM), Jakarta, kepada Syahruddin El-Fikri, wartawan Republika. Continue reading “Prof Dr Abdul Hadi WM: Indonesia tak Punya Rumah Kebudayaan Sendiri”

Bahasa ยป