Membesarkan Sastra, Membesarkan Media

Fatih Beeman*
http://www.pikiran-rakyat.com/

PERKEMBANGAN sastra di Indonesia tentu tidak bisa dilepaskan dari adanya peran media. Media dan sastra ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Sejarah media (tertulis/tercetak) dimulai ketika Gutenberg berhasil menciptakan mesin cetak. Sejak itulah mulai bermunculan pengarang-pengarang dengan karya-karya mereka. Berbagai media yang bermunculan turut membidani lahirnya pengarang-pengarang hebat dan memprakarsai terbentuknya sejarah literasi, termasuk di Indonesia. Continue reading “Membesarkan Sastra, Membesarkan Media”

Sastra dalam Bingkai Estetika Tak Bermalu

Damhuri Muhammad
http://www.suarakarya-online.com/

Semiotisasi tubuh dalam teks sastra erat kaitannya dengan semesta ketubuhan di dalam wacana postmodernisme, yang menggiring diksi tentang tubuh berkembang ke arah yang melampaui (hyper) batas moral, norma, etika, budaya, adat, tabu dan agama.

Selain itu, vulgaritas “bahasa” sebagaimana ditemukan di dalam Jangan Main-main dengan Kelaminmu (Djenar Maesa Ayu), Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto) dan Kuda Ranjang (kumpulan puisi Binhad Nurrohmat) Continue reading “Sastra dalam Bingkai Estetika Tak Bermalu”

Narasi Haji dalam Prosa Indonesia

Damanhuri
ttp://www.lampungpost.com/

Ke angkasa hitam, kulihat, jemaah itu tengadah. Langit gelap langit pekat…Ada langit lain, angkasa lain, di dalam dada. “Putih, benderang, melesat-lesat lempeng cahaya.” Lempeng! Adakah-adakah itu lempengan doa? Tuhan, tak ada hal yang ingin Kau sampaikan kecuali bahwa apa pun doa, dari hati yang bersih, adalah cahaya. Betapa. Tetapi, aku?…

Panggilan ini. Haji tahun lalu. Ingatan akan kampung. Betapa. Apakah sebenarnya makna kata “mampu” atau “sanggup”? Apakah yang telah kuperbuat di tahun lalu?

Kutipan di atas berasal dari paragraf-paragraf awal novel karya Gus tf Sakai, Ular Keempat (Kompas, 2005), Continue reading “Narasi Haji dalam Prosa Indonesia”

Perempuan ke Seratus

Evi Idawati
suarakarya-online.com

Nabila adalah perempuan yang aku incar untuk menggenapi sembilan puluh sembilan perempuan yang pernah aku tiduri menjadi hitungan bulat ke seratus. Tapi perempuan ini sangat susah didekati. Temperamennya yang meledak-ledak semakin memancing syahwatku untuk menaklukannya. Meski sekarang usiaku menginjak limapuluh tahun, aku masih belum sadar juga untuk memulai pertaubatanku. Bayangkan, berapa bulan sekali aku tidur dengan perempuan berbeda. Padahal aku sudah punya istri simpanan empat. Mereka muda dan cantik-cantik. Continue reading “Perempuan ke Seratus”

Perempuan Cantik Itu Tersenyum Kepadaku

Dodiek Adyttya Dwiwanto
oase.kompas.com

Minggu siang ini aku kembali ke sini. Kembali ke tempat ini lagi. Sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Semanggi. Lebih spesifiknya food court di plaza ini.

Entahlah di lantai berapa. Sudah tidak terhitung aku ke sini tetapi tetap saja aku selalu nyasar, kehilangan arah di tempat yang menurutku tidak beres tata letaknya. Mungkin arsitek yang merancang tata letak tempat ini baru lulus kuliah hingga membuat orang-orang termasuk diriku selalu tersesat. Dan hari ini aku datang lagi ke tempat itu. Seperti juga sebulan yang lalu. Dua bulan yang lampau. Setahun yang silam. Dan seperti yang sudah-sudah, aku tersesat. Continue reading “Perempuan Cantik Itu Tersenyum Kepadaku”

Bahasa ยป