Herman

Goenawan Mohamad
tempointeraktif.com

Potret itu dipajang berderet-deret, hampir di tiap pohon. Tapi di manakah Herman? Tiba-tiba saya ingat dia. Ia tak pernah kembali. Sepuluh tahun lebih, sejak ia hilang pada 12 Maret 1998. Orang banyak sudah lupa akan kejadian itu, orang mungkin bahkan lupa ada nama itu, nama seorang yang diculik, terutama karena Herman tak dikenal luas. Saya juga tak mengenalnya betul?dan memang tak harus mengenalnya betul. Continue reading “Herman”

Sastra, di Antara Gender dan Spiritualitas

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Jakarta ? Itulah kenangan seorang gadis cilik. Gadis cilik itu kini telah menjadi dewasa dan menulis berbagai kisah dalam bentuk novel. Dia bernama Camilla Gibb. Sastrawan yang tinggal di Toronto, Kanada ini menemukan dunia lain lewat dialog lisan. Sebuah pandangan yang dia dapat lewat komunikasi.

Gadis kecil itu menerima tamunya – seorang ibu yang menjual roti. Roti yang enak dan hangat. Lalu gadis kecil itu bertanya asal si ibu. Si ibu menjawab, ?Saya dari Palestina?? Apa itu Palestina? Perempuan itu pun menjawab padanya, ?Semacam sebuah negara…? Continue reading “Sastra, di Antara Gender dan Spiritualitas”

Sajak-Sajak Mujtahidin Billah

http://sajaksufi.wordpress.com/
Pada Selembar Buku Sejarah Cinta Balqis

Cinta telah ditawan dengan pedang sukma, apa lagi yang kau lihat
pada kulit air yang mengaca dalam metafora istana itu? kau dengarkan
sayap burung hud hud menarik engsel pintu sejarah, usah pertikaikan
sangkar indah tanpa penghuni, kita teruskan saja hijrah pada negeri
yang sedia menunggunya rakyat jelata burung, negeri tanpa raja tanpa
takhta singgahsana, hanya sinar jiwa memancar setelah terbukanya
pintu istana agung, hanya Aku, tidak lagi namanya burung atau hud hud. Continue reading “Sajak-Sajak Mujtahidin Billah”

Lelaki Terpuji Itu

Nelson Alwi
http://jurnalnasional.com/

DIA bukan modin. Tapi sepengetahuan orang-orang, kepeduliannya pada musala di kompleks perumahan di mana kami bermukim, melebihi loyalitas seorang modin atau penjaga rumah ibadah mana pun.

Biasanya, antara pukul sembilan dan sepuluh pagi, dengan handuk kecil tersampir di pundak, dia sampai di musala. Tenang-tenang dia singkapkan pintu dan jendela rumah ibadah itu. Tenang-tenang pula dia buka gudang perkakas. Kemudian, ada-ada saja yang dia kerjakan?tergantung cuaca dan, mungkin juga, merupakan kebijakan atau kemauannya belaka. Continue reading “Lelaki Terpuji Itu”

Bahasa ยป