Mawar di Tiang Gantungan

Agus Noor
cetak.kompas.com

Kuceritakan apa yang kulihat. Tapi kalian mengatakan aku dusta, karena aku buta. Aku memang tak punya mata. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian, betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu, daun-daunnya yang kemerahan, butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru, gugusan awan merah muda, bayang-bayang yang putih dan memanjang, juga angin yang pucat kelabu. Continue reading “Mawar di Tiang Gantungan”

Untuk Emakku

Weni Suryandari
http://www.kompas.com/

Surti menatap nanar setiap kendaraan yang lewat. Sesekali ia melambaikan tangannya pada setiap sopir, namun malam itu tak satupun sopir kendaraan berhenti. Ia sudah lelah dan mengantuk. Uang di sakunya hanya tinggal beberapa puluh ribu lagi, berarti ia harus mencari uang lagi untuk melunasi hutang biaya rumah sakit perawatan emaknya yang meninggal 1 bulan yang lalu dan harus ia tanggung sendirian sebagai anak satu-satunya yang tersisa dari dua bersaudara. Continue reading “Untuk Emakku”

MISTERI PENJURIAN YANG MISTERIUS

(Catatan tambahan atas tulisan Nur Zain Hae, Agus Noor, dan Edy A. Effendi)

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Tugas utama juri adalah menilai, memilih, dan memutuskan. Dalam proses menilai dan memilih, ia memanfaatkan wawasan dan profesionalitasnya. Dan dalam memutuskan, ia mempertaruhkan otoritasnya. Oleh karena itu, keputusan juri berhubungan dengan masalah moral dan etik. Moral berkaitan dengan kejujuran, kebenaran, dan objektivitas, dan etik menyangkut hal-hal yang bersifat normatif. Continue reading “MISTERI PENJURIAN YANG MISTERIUS”

Kisah dengan Tokoh Fragmentaris oleh Agus Noor

Hudan Hidayat

BELAKANGAN ini, pada banyak kesempatan saya kerap mengutarakan kegelisahan seputar menghilangnya “tokoh” dalam cerpen kita. Dan saya yakin, bahwa tak banyak ditemukannya “tokoh-tokoh yang otentik” dalam cerpen terkini bukanlah semata persoalan keterbatasan ruang penceritaan. Ketika Sunaryono Basuki KS menegaskan bahwa characterless short story adalah tak mungkin, maka di sanalah sebenarnya persolan itu berada: bahwa yang jadi soal adalah ketiadaan “tokoh”, bukan ketiadaan pengembangan tokoh atau “penokohan”. Continue reading “Kisah dengan Tokoh Fragmentaris oleh Agus Noor”

Ekspresi Demokrasi Cerpen Indonesia

Ratno Fadillah
http://www2.kompas.com/

Kita sering mengunjungi taman kota pada saat hari libur atau untuk melepas rindu bertemu kekasih. Juga tak jarang, taman kota menjadi alternatif saat anak-anak kita memohon ke tempat wisata yang berbiaya mahal.

Sementara membawa mereka berkeliling mal atau plaza dalam kota, sama saja. Kita sulit menghindar dari keinginan belanja dan makan di restoran fast food. Taman pun segera menjadi pilihan yang terjangkau. Menjanjikan keceriaan, pelepasan, keakraban, kesegaran, dan sebagainya. Continue reading “Ekspresi Demokrasi Cerpen Indonesia”

Bahasa ยป