Pencemooh Sepanjang Jalan

Irfan Budiman
http://majalah.tempointeraktif.com/

A.A. Navis tidak hanya melahirkan karya, tapi juga penulis sastra.
Peristiwa yang terjadi 25 tahun lalu itu tak mudah dilupakan Harris Effendi Thahar. Kala itu, bersama Wisran Hadi dan Darman Moenir, Harris yang masih terbilang yunior dalam percaturan sastra mendapat undangan untuk menghadiri acara pemberian penghargaan sastra dari Dewan Kesenian Jakarta. Sayang, cuma dua rekannya itu yang beroleh gelar. Dia sendiri nihil penghargaan. Continue reading “Pencemooh Sepanjang Jalan”

Mengenang Sastrawan A.A. Navis

Gerson Poyk
http://www.sinarharapan.co.id/

Sejak akhir masa Presiden Sukarno dan masa Presiden Suharto sampai hari ini, Indonesia telah kehilangan beberapa sastrawan, seperti J.E.Tatengkeng, Anak Agung Panji Tisna, Idrus, Takdir Alisyahbana, Iwan Simatupang, Nugroho Notosusanto, H.B.Jassin, Trisnoyuwono, Muhamad Ali, Kirjomulyo, Chairul Harun, Satyagraha Hoerip, dan Motinggo Boesye. Continue reading “Mengenang Sastrawan A.A. Navis”

Sajak “Melawan Arus Samiri” Mathori A Elwa *

Agus Fahri Husein
mathorisliterature.blogspot.com

HAMPIR dalam setiap pertikaian elite politik di negeri ini, selalu muncul pernyataan-pernyataan ganjil, yaitu repetitif dari kalimat: ?Jangan sampai ada yang dipermalukan.? Maksudkan tentu saja, apapun kejadiannya jangan sampai ada di antara para elite itu yang dipermalukan. Tentu saja pernyataan ini aneh jika ditilik dari tujuan dibentuknya elite politik itu. Demi 220 juta rakyat, maka jika memang diperlukan, mempermalukan beberapa orang elite politik adalah harga yang sangat murah. Pemimpin dipilih untuk tujuan-tujuan pemilihnya, bukan sebaliknya. Continue reading “Sajak “Melawan Arus Samiri” Mathori A Elwa *”

Bahasa ยป