Judul : Mencari Beningnya Mata Air, Renungan A. Mustofa Bisri
Penulis : A. Mustofa Bisri
Edisi : I, September 2008
Halaman : viii + 152 Halaman
Penerbit : Kompas, Jakarta
Peresensi : Liza Wahyuninto
http://celaledinwahyu.blogspot.com/ Continue reading “Mencari Bening Mata Air Bersama Gus Mus”
Ekspresionis Kontemporer dalam Hitam Putih
Hardono*
http://www.jawapos.com/
Tempalah besi selagi panas. Jangan menahan letupan larva gunung berapi. Ungkapan itu mungkin sesuai untuk memotret Jansen Jasein, pelukis yang kini sedang menggelar pameran kelima di galeri seni Hourse of Sampoerna Surabaya. Dalam pameran yang berlangsung 28 Januari hingga 26 Februari 2009 itu dipajang 43 karya, yang terdiri atas sketsa dan lukisan hitam putih di atas kertas atau kanvas. Continue reading “Ekspresionis Kontemporer dalam Hitam Putih”
TEATER SURABAYA DI TENGAH KRISIS PENGAMATAN
Rakhmat Giryadi
Kalau kita hitung, berapa jumlah teater nonkampus –untuk tidak menyebut profesional- di Surabaya? Kalau kita hitung-hitung tak melebihi jumlah jari tangan. Sementara yang masih eksis ‘berproses’ barangkali cuma berjumlah separuhnya. Beberapa bisa kita sebut, Teater Tobong, Teater Api Indonesia (TAI), Teater Jaguar, dan –mungkin- Bengkel Muda Surabaya, Teater Ragil. Untuk sementara kelompok-kelompok inilah yang masih memiliki greget menggairahkan perteateran di Surabaya. Bahkan mereka bisa diklaim sebagai rujukan eksistensi teater Surabaya di tingkat nasional. Continue reading “TEATER SURABAYA DI TENGAH KRISIS PENGAMATAN”
HAMSAD RANGKUTI: MENULIS SEBAGAI PROFESI
Sutejo
Ponorogo Pos
Siapa yang tidak kenal Hamsad Rangkuti? Sastrawan ini lebih dikenal sebagai penulis fiksi yang andal. Kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot mendapatkan hadiah Khatulistiwa Award dengan total Rp 70 juta berikut berjalan-jalan keliling Inggris. Continue reading “HAMSAD RANGKUTI: MENULIS SEBAGAI PROFESI”
Beda tapi Santun
D. Zawawi Imron *
jawapos.com
Rabu, 4 Februari 2009, aula Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, dipenuhi peminat sastra. Bahkan ada hadirin yang rela berdiri. Acaranya, peluncuran buku berjudul Menggapai Impian karangan Nyai Masriyah Amva dari Cirebon. Penulis wanita ini belajar menulis ketika berumur 46 tahun. Tema yang ditulis merupakan pengalaman pribadi, dengan rasa yang dalam, maka tulisan itu menjadi menarik. Ia menulis apa adanya tanpa berupaya untuk memerindah bahasanya. Continue reading “Beda tapi Santun”
