Ekspresionis Kontemporer dalam Hitam Putih

Hardono*
http://www.jawapos.com/

Tempalah besi selagi panas. Jangan menahan letupan larva gunung berapi. Ungkapan itu mungkin sesuai untuk memotret Jansen Jasein, pelukis yang kini sedang menggelar pameran kelima di galeri seni Hourse of Sampoerna Surabaya. Dalam pameran yang berlangsung 28 Januari hingga 26 Februari 2009 itu dipajang 43 karya, yang terdiri atas sketsa dan lukisan hitam putih di atas kertas atau kanvas. Pelukis ekspresionis ini memang produktif dan kreatif. Berawal pameran HUT 69 RSU dr Soetomo, Oktober 2007; disusul pameran ”Tandjoeng Perak Tepi Laoet” di Graha Pena, Maret 2008. Kemudian April 2008 di Telkomsel Priority Lounge, dan yang terakhir di Geleri Wartawan (PWI) Jatim, Agustus 2008.

Bila dua pameran pertama bernapaskan ekspresionis dengan tema gedung-gedung tua, dua pameran terakhir berciri. ekspresionis kontemporer. Jasien tidak semata-mata menampilkan bangunan kota lama (yang menjadi tema tetap), tetapi dia memadukannya dengan elemen lain seperti tulisan, gambar peta, dan lain-lain bagaikan mosaik. Gaya ekspresionis kontemporer ini diwujudkan dalam pameran kali ini.

Persamaan pameran-pameran Jasein selama ini, di samping diselenggarakan secara ”wah”, pelukis 34 tahun ini selalu menampilkan luapan emosi yang menggelora bagaikan letupan gunung merapi. Ini bisa kita rasakan pada goresan sapuan-sapuan spontan, tegas, dan penuh percaya diri.

Saat Jasien ”ngamen” di Balai Pemuda berbaur dengan konter-konter kerajinan, saya mengamati sketsanya bagus, namun banyak garis-garis liar yang tidak perlu. Kini saya menyadari bahwa garis-garis liar tersebut adalah refleksi kegelisahan mendalam si seniman berambut panjang ini. Lihatlah goresannya dalam Jiwa Imlek Dupa Penghidupan, alam memberi makna. Ditunjang ukuran-ukuran sedang (40 x 54) Jasien mudah mengontrol emosi sehingga coretan-coretannya terasa pas.

Saat mencipta Jasien bagaikan sedang entrance (kesurupan), tangannya hanya sebagai perantara antara hati, emosi dengan kanvas atau kertas. Dia benar-benar memosisikan diri sebagai perupa bukan pelukis yang terikat dengan pakem-pakem dan aturan. Tulisan-tulisan Jawa-nya muncul dan mengalir tanpa konsep. Demikian juga garis-garis yang menyertainya.

Ini mengingatkan saya pada cerita Lini Tedja Suminar perihal dirinya saat masih menjadi ”pelukis cilik”.

”Begitu saya memegang pensil saya seolah-olah terbang dan pergi jauh dan begitu kembali pensil saya berhenti bergerak. Dan, selesailah lukisan saya,” ujar ibu tiga putra ini.

Dalam karya Jasien kita tidak menemukan garis yang manis, suasana indah seperti karya almarhum Soeoed dalam hitam putihnya. Kita juga tidak disuguhi garis-garis geometris yang diisi gambar binatang atau manusia seperti karya pelukis Sarko.

Menikmati karya-karya Jasien kita dihadapkan pada letupan-letupan emosi dalam garis-garis yang tegas. Seperti tampak dalam Dua Sisi Kawasan Tua, Dulu Kekinian, Pohon Angpao, dan beberapa yang lain.

Torehan tulisan Jawanya mengingatkan saya pada karya sketser X Ling almarhum yang selalu memberi catatan pesan dalam setiap karyanya. Pemahaman Jasien yang ”luwes” dengan huruf Jawa patut dipuji, mengingat zaman sekarang langka ada anak muda yang sudi menoleh pada peninggalan leluhur.

Dalam mencipta, seorang pelukis dipengaruhi mood (kemauan keras), stamina (khususnya untuk ukuran besar), serta emosi. Pelukis ekspresionis Daryono pernah mengatakan, dalam ekspresionis memang kita bebas mengayunkan garis. Tetapi, setiap garis tetap ada pertanggungjawabannya.

Pada Lambang, rasa hormat dan kepatuhan Jasien tampak ”tenang”. Dengan kertas ukuran 38,5 x 66 cm dia cukup membuat lingkaran dan memadukannya dengan gambar-gambar domba. Tulisan hanya ala kadarnya. Demikian juga dalam Khidmat dan Rame ing Gawe.

Untuk ukuran besar saya tertarik pada Soerabaia di Oejoeng Doepa (190 x 124). Dengan ”taktik” membuat lingkaran besar serta sapuan lebar, Jasien tinggal mengikuti bulatan dengan mengisi elemen-elemen gambar kaki dan tulisan-tulisan. Jadilah komposisi yang enak dipandang. Sangat berbeda dalam Sawang Sinawang (190 x 142) dan Gerakan Moral (174 x 142). Di dua lukisan itu, saya merasakan Jasien sibuk mengisi bidang kosong. Mungkin bila elemen gambar wayangnya dibuat lebih besar dengan lidi dupa 2,3 biji hingga menghasilkan garis tebal, ruang kosong itu cepat terisi. Penempatan blok hitam di tepi frame terasa dipaksakan. Harus saya akui memang sulit menempatkannya. Maka. untuk mengurangi risiko blok hitam bisa digantikan sapuan transparan yang berisikan elemen wayang agar lukisan tidak terlalu pucat.

Pada pameran ini saya ”menemukan” tiga sketsa yang apik (di luar karya 2003), yakni Menuju Klenteng, Dukuh dan Barongsai. Saya merasakan spontanitas, garis yang cukup, dan ekspresi yang kental.

Saya menilai pameran ini sungguh bermakna. Di sela-sela pameran-pameran lukisan berwarna, pameran lukisan hitam putih ini diharapkan menggugah para pelukis dan pemerhati lukisan untuk menolehnya.

Di masa mendatang, apakah Jansen Jansien tetap akan mengusung tema ”trade mark”-nya (seperti ”Wadji Iwak”) atau membuat terobosan-terobosan baru, kita tunggu kiprahnya. (*)

Sketser Sanggar Tanah Jawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *