TAMBUR TAFFAKUR

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Demikianlah pada mulanya, bahwa tatapan mata yang mengurai kesemestaan adalah telah lebih jauh melewati rimba larangan, dan selanjutnya tanpa dihantui siapapun, meneruskan perlintasan ke arah barat. Kita mengunci bisik-dingin sang bayu, di kala ketukan-ketukan yang menghampir sudah teramat berderap dan kemudian menderu, semirip dengan taufan pada kemarau garang. Continue reading “TAMBUR TAFFAKUR”

KRISTAL BERCAHAYA DARI SURGA

Nur Hayati*

“Nek, kenapa Nenek dulu menamaiku dengan nama Diana Putri Felicity? Padahal kata Nenek, kakek dulu hanya memberiku nama Diana saja.”
‘Sayang, memang kakekmu dulu hanya memberikan nama Diana saja. Tapi Nenek ingin kau seperti putri kita semua. Putri Diana. Dia seorang putri namun dia tak sombong dan begitu ramah terhadap rakyat seperti kita. Hampir pada masa pemerintahannya, kondisi negara berjalan dengan baik. Dan ketika dia meninggal, lihat saja semua orang turut berduka dan berdoa untuk keselamatanya. Sama denganmu, Nenek ingin kau seperti dirinya. Seperti putri yang baik hati itu. Dan kau tau, Felicity itu artinya kebahagiaan. Nenek ingin kebahagiaan slalu menemani cucu Nenek ini.” sambil mencubit pipi cucunya itu. Continue reading “KRISTAL BERCAHAYA DARI SURGA”

Naskah Kuno, Jawa, dan Islam

Fahrudin Nasrulloh
Suara Merdeka, 16 Sep 2007

Tatkala riwayat dinasti Majapahit dikhatam dengan masuknya Islam dan berdirinya kerajaan Demak. Maka porak-porandalah kerajaan itu, sirna ilang kertaning bumi, di abad ke-14 M. Imperium malang itu, yang kini tilasnya bisa disambangi di Trowulan Mojokerto, nyaris hanya meninggalkan segelintir cecandi, artefak yang kabur, dan arca-arca terlantar yang kerap dijarah orang. Setelah itu kasultanan Demak berdiri pada abad ke-16 M. Ada dua naskah Jawa Islam yang ditulis pada zaman Demak ini, yaitu Het Boek van Bonang dan Een Javaans Geschrift de 16e Eew (semacam Primbon Jawa abad ke-16 M). Continue reading “Naskah Kuno, Jawa, dan Islam”