Sastra Politik, Dikotomik, atau Biografik?

Toni Aprito
http://www.lampungpost.com/

SASTRA dan dinamika politik, bagaikan kumparan gasing dan talinya; siapa mengendalikan siapa. Apakah tali yang mengendalikan gasing atau justru gasing yang tanpa tali tak mungkin berputar.

Demikian pula kesustraan di Indonesia, ia berkait erat dengan proses politik yang terjadi. Kisi-kisinya mengembangkan nuansa politik. Ini mungkin pengaruh masyarakat dan tradisi politik Indonesia. Continue reading “Sastra Politik, Dikotomik, atau Biografik?”

Catatan JilFest 2008; Sastra dan Penghargaan Nobel

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Karya Pram, dalam kenyataan, adalah satu-satunya karya yang paling dikenal di luar negeri. Namun, sastrawan Putu Wijaya menyebutkan banyak faktor yang memengaruhi populernya sebuah karya. Pelarangan karya-karya Pramoedya Ananta Toer (Pram), tak bisa dielakkan, dapat juga menjadi promosi yang hebat sekali atas karyanya. “Minat membaca terhadap yang dilarang justru semakin besar ketimbang ketika karya itu tak dilarang,” ujar Putu sambil mengatakan bahwa dia justru bangga terhadap karya mendiang, sekaligus mengakui kualitasnya. Continue reading “Catatan JilFest 2008; Sastra dan Penghargaan Nobel”

Sastrawan, Buku, dan Imajinasi

Misbahus Surur
http://www.jawapos.com/

Dalam dunia kepenulisan, totalitas pengarang adalah sebuah keinginan untuk tidak memenjarakan imajinasi. Lidah para sastrawan menjadi jembatan penghubung dunia imajinal ke dunia kenyataan. Keberhasilan memainkan imajinasi menjadi harga mati yang harus dipertaruhkan seorang pengarang. Tidak banyak yang bisa mengeksplorasi cerita menjadi mahakarya yang tak tertandingi. Dari yang sedikit itu, kita diperkenalkan dengan Karl May dengan seri Winnetow-nya, J.K. Rowling dengan serial sihir Harry Potter yang benar-benar menyihir. Continue reading “Sastrawan, Buku, dan Imajinasi”

Bahasa ยป