Robohnya Surau Kami, Cerpen Favorit Saya

Limantina Sihaloho *
http://sosbud.kompasiana.com/

Saya membaca Robohnya Surau Kami sekitar 6 tahun yang lalu di Perpustakaan Joseph Regenstein, Chicago. Senang betul menemukan buku-buku dalam bahasa Indonesia di sana; konon ini perpustakaan paling besar di Chicago.

Sastra memikat jiwa banyak manusia, termasuk saya ini; salah satu tempat belajar untuk menilai: ?manusia macam apakah awak ini?? Continue reading “Robohnya Surau Kami, Cerpen Favorit Saya”

Lokasi Lepau Cerpen AA Navis

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

Ada empat cerpen AA Navis berlokasi-cerita di lepau kopi atau warung. Yaitu, Politik Warung Kopi (PWK), Kisah Seorang Amir (KSA), Orang dari Luar Negeri (OdLN), Bertanya Kerbau pada Pedati (BKpP). PWK, KSA, OdLN, serta dua cerpen lain ditulis periode 1955-1960, dihimpun dalam Hujan Panas (Nusantara, Bukittinggi, 1964). Pada cetakan ke-2 (Djambatan, Jakarta, 1990), judul kumpulan ini berubah jadi Hujan Panas dan Kabut Musim, dan memuat 10 cerpen. Continue reading “Lokasi Lepau Cerpen AA Navis”

Mengenang Sastrawan A.A. Navis

Gerson Poyk
http://www.sinarharapan.co.id/

Sejak akhir masa Presiden Sukarno dan masa Presiden Suharto sampai hari ini, Indonesia telah kehilangan beberapa sastrawan, seperti J.E.Tatengkeng, Anak Agung Panji Tisna, Idrus, Takdir Alisyahbana, Iwan Simatupang, Nugroho Notosusanto, H.B.Jassin, Trisnoyuwono, Muhamad Ali, Kirjomulyo, Chairul Harun, Satyagraha Hoerip, dan Motinggo Boesye. Continue reading “Mengenang Sastrawan A.A. Navis”